Setapak Langkah – 03 Agustus 2026 | Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah, sering dikaitkan dengan nasib sial dalam budaya populer di Indonesia. Meskipun kepercayaan ini sudah lama beredar, banyak yang belum mengetahui asal‑usulnya dan apakah ada dasar dalam ajaran Islam.
Asal‑usul Mitos Safar
- Sejarah mencatat bahwa pada masa awal Islam, beberapa peristiwa buruk terjadi pada bulan Safar, seperti perang dan wabah, yang kemudian menimbulkan generalisasi.
- Di era pra‑modern, kalender lunar dipakai untuk menentukan musim dan kegiatan pertanian; Safar yang bertepatan dengan musim hujan di wilayah tertentu dianggap sebagai waktu yang tidak menguntungkan.
- Pengaruh tradisi Arab pra‑Islam yang menyebutkan Safar sebagai “bulan perjalanan” (safar berarti perjalanan) juga memberi kesan ketidakpastian.
Pandangan Islam terhadap Kesialan pada Safar
Al‑Qur’an tidak menyebutkan Safar sebagai bulan yang membawa kemalangan. Sebaliknya, ayat‑ayat menekankan bahwa takdir manusia ditentukan oleh Allah dan bukan oleh bulan tertentu.
Dalam hadits shahih, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa tak ada keutamaan atau keburukan khusus pada bulan Safar. Salah satu riwayat menyebutkan: “Tidak ada keutamaan pada bulan Safar, tidak ada pula keburukan pada bulan lain kecuali apa yang ditetapkan Allah.” (HR. Bukhari).
Para ulama sepakat bahwa kepercayaan tentang “kesialan Safar” termasuk dalam bid‘ah (inovasi) karena tidak memiliki dasar syariah.
Faktor Psikologis dan Sosial
Keyakinan semacam ini sering berakar pada efek konfirmasi; orang cenderung mengingat kejadian buruk yang terjadi pada Safar dan mengabaikan kejadian positif. Selain itu, cerita‑cerita turun‑temurun memperkuat stereotip tersebut.
Bagaimana Menanggapi Mitos Ini?
- Memahami bahwa takdir ditentukan oleh Allah, bukan kalender.
- Mencari pengetahuan dari sumber Islam yang terpercaya, seperti Qur’an dan hadits.
- Menghindari penyebaran kepercayaan yang tidak berdasar.
- Menjalankan aktivitas dengan niat baik tanpa memperhatikan “label” bulan.
Dengan menelusuri sejarah, ajaran Islam, serta faktor psikologis, dapat dipahami bahwa mitos kesialan bulan Safar tidak memiliki landasan yang kuat. Masyarakat diharapkan dapat memandang bulan Safar sebagaimana bulan lainnya—sebagai bagian dari siklus lunar yang netral.