Setapak Langkah – 28 Juli 2026 | Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo, menyoroti dampak ketidakpastian ekonomi global yang melanda Indonesia. Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak dunia menjadi beban utama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Rupiah telah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika sejak awal tahun, yang berimbas pada meningkatnya biaya impor, terutama bahan bakar dan barang konsumsi. Sementara itu, harga minyak mentah internasional melonjak lebih dari 10 persen dalam beberapa minggu terakhir, memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri.
- Depresiasi rupiah meningkatkan beban hutang luar negeri.
- Kenaikan harga minyak mengurangi daya beli masyarakat.
- Inflasi pangan diproyeksikan naik karena biaya transportasi yang lebih tinggi.
Hary menegaskan bahwa segmen masyarakat berpendapatan paling rendah akan merasakan tekanan terbesar. Mereka yang mengandalkan upah harian atau sektor informal memiliki margin keuangan yang sempit, sehingga kenaikan harga kebutuhan pokok dapat mengancam ketahanan hidup.
Untuk mengatasi situasi tersebut, ia mengusulkan beberapa langkah kebijakan, antara lain:
- Peningkatan intervensi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar.
- Subsidi energi sementara bagi rumah tangga miskin.
- Penguatan jaringan distribusi pangan guna menekan kenaikan harga.
Jika kebijakan tidak diambil secara cepat, risiko ketimpangan ekonomi akan semakin lebar, menambah beban sosial dan politik bagi pemerintah.