Setapak Langkah – 21 Juli 2026 | Baru-baru ini, para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyuarakan keprihatinan atas penetapan standar baru yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait migrasi penggunaan galon BPA menjadi kemasan yang dapat dipakai ulang. Menurut mereka, standar tersebut belum didukung oleh kajian ilmiah yang memadai, sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan beban ekonomi bagi produsen.
Beberapa poin utama yang disorot oleh tim peneliti ITB antara lain:
- Kurangnya data eksperimental tentang migrasi bisfenol A (BPA) pada kondisi penggunaan ulang yang berulang.
- Ketidaksesuaian antara batas maksimum yang ditetapkan dengan standar internasional yang berlaku.
- Potensi biaya tambahan bagi industri pengolahan air minum dalam menyesuaikan proses sterilisasi dan pengujian.
Tim tersebut menekankan perlunya studi pendahuluan yang mencakup:
- Uji migrasi BPA pada berbagai suhu, pH, dan siklus penggunaan.
- Analisis risiko jangka panjang bagi konsumen, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
- Perbandingan biaya implementasi standar baru dengan manfaat kesehatan yang diharapkan.
Dalam pernyataannya, para akademisi menegaskan bahwa kebijakan publik yang efektif harus didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat. Mereka juga mengusulkan agar BPOM melibatkan lembaga riset independen dalam proses penyusunan standar, sehingga hasilnya lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika standar baru diberlakukan tanpa dasar ilmiah yang memadai, ada kemungkinan munculnya tantangan hukum dari produsen serta penurunan kepercayaan konsumen terhadap kemasan galon yang diklaim ramah lingkungan. Oleh karena itu, dialog antara regulator, industri, dan komunitas ilmiah menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa kebijakan migrasi BPA tidak hanya aman, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi.