Setapak Langkah – 14 Juli 2026 | Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali resmi dimulai pada hari ini, menandai langkah konkret dalam rangka menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah nasional.
Proyek ini dibiayai dan dioperasikan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan dukungan penuh pemerintah daerah serta pihak swasta yang berkompeten dalam teknologi waste-to-energy. Lokasi pembangunan dipilih di kawasan strategis Bali yang memiliki akses logistik mudah dan potensi sampah rumah tangga serta industri yang tinggi.
Target utama PSEL Bali adalah mengolah hingga 1.200 ton sampah per hari menjadi listrik dengan kapasitas terpasang sekitar 15 megawatt (MW). Energi yang dihasilkan akan disalurkan ke jaringan listrik nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan Bali pada bahan bakar fosil.
- Pengurangan volume sampah akhir sekitar 70 %.
- Penyediaan listrik bersih bagi sekitar 50.000 rumah tangga.
- Penciptaan lapangan kerja langsung bagi lebih dari 300 tenaga kerja lokal.
- Kontribusi terhadap target energi terbarukan Indonesia sebesar 23 % pada 2025.
Pelaksanaan proyek dibagi menjadi tiga fase: fase konstruksi selama 18 bulan, fase pengujian operasional selama 6 bulan, dan fase komersialisasi penuh. Selama fase pertama, PLN akan mengimplementasikan teknologi pembakaran sampah berbasiskan gasifikasi yang telah terbukti efisien di beberapa negara maju.
Direktur Utama PLN, Nama Direktur, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung transformasi energi nasional dan menegaskan bahwa proyek PSEL Bali menjadi contoh model yang dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan dimulainya pembangunan ini, diharapkan Indonesia semakin mendekatkan diri pada visi negara bebas sampah dan energi bersih, serta memperkuat ketahanan energi nasional melalui sumber daya yang berkelanjutan.