Setapak Langkah – 07 Juli 2026 | Sejak dimulainya Piala Dunia 2026, sorotan dunia terpusat pada kompetisi sepak bola terbesar. Namun di Gaza, meski terdampak konflik berkepanjangan, bola tetap berputar di atas lapangan hijau yang tersembunyi di antara puing‑puing.
Komunitas lokal mengorganisir pertandingan kecil yang sekaligus menjadi media pertukaran pesan antara para pemain di lapangan dengan warga yang berlindung di tenda‑tenda pengungsi. Setiap gol, setiap tendangan, dibarengi dengan seruan semangat yang mengalir melalui terompet suara dan pengeras suara sederhana.
- Pesan harapan: “Kita tetap hidup, kita tetap bermain.”
- Pesan solidaritas: “Bola ini milik kita semua, tidak hanya untuk satu tim.”
- Pesan perdamaian: “Jika ada satu hal yang dapat menyatukan kami, itu adalah sepak bola.”
Para pemain, yang sebagian besar masih berusia remaja, mengaku bahwa lapangan hijau menjadi “tempat melupakan sejenak suara tembakan”. Sementara di tenda‑tenda, anak‑anak menunggu giliran menonton pertandingan melalui layar portabel yang dipasang di antara tenda‑tenda, sambil mengirimkan dukungan lewat spanduk buatan tangan.
| Kegiatan | Lokasi | Peserta |
|---|---|---|
| Pertandingan persahabatan | Lapangan Hijau Al‑Hikma | 12 tim, masing‑masing 15 pemain |
| Penayangan ulang | Tenda Pengungsi Al‑Aqsa | ≈ 300 penonton |
| Penggalangan dana | Area perbatasan | Donatur lokal & internasional |
Selain memberi hiburan, acara‑acara tersebut juga berfungsi sebagai platform penggalangan dana. Beberapa organisasi kemanusiaan menyalurkan bantuan lewat penjualan merchandise miniatur bola dan kaos bertuliskan “Football for Gaza”. Dana yang terkumpul dialokasikan untuk perbaikan fasilitas medis darurat dan pasokan air bersih.
Namun tantangan tetap besar. Keterbatasan listrik, kerusakan infrastruktur, serta ancaman keamanan yang tak terduga membuat setiap sesi latihan harus disiapkan dengan cepat. “Kami tidak pernah tahu kapan suara sirene akan berbunyi lagi,” ujar seorang pelatih yang meminta nama samaran.
Meski demikian, semangat yang terpancar dari lapangan hijau dan tenda pengungsi menegaskan peran sepak bola sebagai bahasa universal yang melampaui batas konflik. Dengan menyalakan harapan melalui setiap tendangan, masyarakat Gaza menunjukkan bahwa sport bukan hanya kompetisi, melainkan sarana bertahan hidup secara mental dan emosional.