Setapak Langkah – 06 Juli 2026 | Vietnam, yang dulu dikenal sebagai “anak bawang” akibat kehancuran pasca Perang Vietnam, kini berhasil menembus ambang kelas menengah atas. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata mencapai sekitar 6‑8% dalam satu dekade terakhir, menjadikan negara ini contoh transformasi cepat bagi Indonesia.
Berbagai faktor menjadi pendorong utama keberhasilan tersebut:
- Reformasi ekonomi Doi Moi (1986): Pemerintah membuka pasar, melonggarkan kontrol harga, dan mengizinkan investasi asing.
- Investasi asing langsung (FDI): Sektor manufaktur, khususnya elektronik dan tekstil, menyerap lebih dari 30% FDI tahunan.
- Pembangunan infrastruktur: Jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik diperluas secara masif, menurunkan biaya logistik hingga 15%.
- Pengembangan sumber daya manusia: Fokus pada pendidikan teknik dan bahasa Inggris meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
- Diaspora dan remitan: Penduduk Vietnam di luar negeri mengirimkan remitan yang berkontribusi pada konsumsi domestik.
Berikut ini ringkasan indikator ekonomi utama Vietnam dibandingkan dengan Indonesia dalam periode 2015‑2023:
| Tahun | Vietnam (GDP %) | Indonesia (GDP %) | GDP per kapita Vietnam (USD) | GDP per kapita Indonesia (USD) |
|---|---|---|---|---|
| 2015 | 6,7 | 5,0 | 2.300 | 3.600 |
| 2018 | 7,1 | 5,2 | 2.600 | 4.200 |
| 2021 | 6,9 | 3,7 | 3.300 | 4.600 |
| 2023 | 7,8 | 5,3 | 3.800 | 5.000 |
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kebijakan makroekonomi yang stabil, termasuk pengendalian inflasi di bawah 4% dan nilai tukar yang relatif kompetitif. Selain itu, Vietnam menempatkan diri sebagai pusat produksi rantai pasok regional, memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas seperti CPTPP dan RCEP.
Indonesia dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
- Mengintensifkan reformasi struktural di sektor energi dan birokrasi untuk menarik lebih banyak FDI.
- Meningkatkan kualitas pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri 4.0.
- Mempercepat pembangunan infrastruktur logistik guna menurunkan biaya transportasi barang.
- Memperluas jaringan perdagangan bilateral dan multilateral untuk mengakses pasar ekspor yang lebih luas.
Dengan mengadopsi pendekatan serupa, Indonesia berpotensi mempercepat laju pertumbuhan dan mengangkat lebih banyak penduduknya ke kelas menengah atas, meniru jejak sukses Vietnam yang kini menjadi “anak bawang” berdaya saing tinggi.