Setapak Langkah – 02 Juli 2026 | Pada Juni 2026 Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan Nilai Tambah Pertanian (NTP) serta revisi produksi padi yang lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor pertanian, termasuk faktor cuaca ekstrem dan fluktuasi harga komoditas.
Revisi produksi padi menunjukkan realisasi sebesar 32,8 juta ton, lebih rendah 1,4 juta ton dari estimasi awal yang dipublikasikan pada Mei 2026. Penurunan ini terutama terjadi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, dimana curah hujan di bawah normal mengurangi hasil panen.
Sementara itu, produksi jagung tercatat 9,3 juta ton, naik 2,1 % dari 9,1 juta ton pada Juni 2025, menandakan perbaikan pada daerah penghasil jagung di Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.
| Indikator | 2025 | 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| NTP Pertanian (Triliun Rp) | 1,47 | 1,42 | -3,2 % |
| Produksi Padi (Juta Ton) | 34,2 | 32,8 | -4,1 % |
| Produksi Jagung (Juta Ton) | 9,1 | 9,3 | +2,2 % |
Pemerintah menanggapi situasi ini dengan memperkuat program subsidi pupuk, meningkatkan penyuluhan pertanian, serta memperluas asuransi tanaman bagi petani kecil. Diharapkan kebijakan tersebut dapat menstabilkan produksi dan menurunkan volatilitas harga pangan.
Analisis BPS menegaskan bahwa meskipun NTP mengalami penurunan, sektor pertanian tetap menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Keberlanjutan produksi pangan akan sangat bergantung pada penanganan faktor iklim dan dukungan kebijakan yang tepat.