Setapak Langkah – 28 Juni 2026 | Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menekankan pentingnya pengembangan hilirisasi lidah buaya di Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai upaya meningkatkan pendapatan petani lokal. Lidah buaya, yang dikenal memiliki nilai gizi dan manfaat kosmetik tinggi, selama ini masih banyak dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai ekonominya belum optimal.
Berikut beberapa langkah strategis yang diusulkan dalam rangka memperkuat rantai nilai lidah buaya:
- Peningkatan kapasitas produksi melalui penyediaan bibit unggul dan pelatihan budidaya modern.
- Pembangunan fasilitas pengolahan di tingkat daerah, termasuk pemotongan, pengeringan, dan ekstraksi gel.
- Penerapan standar kualitas internasional untuk produk akhir, seperti suplemen kesehatan, bahan baku kosmetik, dan pangan fungsional.
- Pengembangan pemasaran digital yang menghubungkan petani langsung dengan pembeli industri.
- Pemberian insentif fiskal dan kredit lunak bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam hilirisasi.
Data produksi lidah buaya di Kalimantan Barat pada tahun 2023 menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan:
| Tahun | Luas Lahan (ha) | Produksi (ton) | Pendapatan Petani (juta Rp) |
|---|---|---|---|
| 2021 | 1,200 | 4,800 | 96 |
| 2022 | 1,350 | 5,500 | 110 |
| 2023 | 1,500 | 6,300 | 126 |
Dengan penerapan langkah-langkah di atas, proyeksi peningkatan pendapatan petani dapat mencapai 30‑40 % dalam lima tahun ke depan. Selain itu, nilai tambah produk olahan lidah buaya diperkirakan naik dua kali lipat dibandingkan penjualan bahan mentah.
Pemerintah berencana menggelar serangkaian lokakarya dan demonstrasi lapangan pada kuartal pertama 2024, melibatkan lembaga penelitian, asosiasi petani, serta pelaku industri. Harapannya, model hilirisasi ini dapat direplikasi di provinsi lain dengan komoditas serupa, memperkuat kemandirian ekonomi pedesaan.