Setapak Langkah – 27 Juni 2026 | Para mahasiswa Universitas Darussalam (UNDIRA) mempersembahkan pameran foto yang menyoroti realitas sosial dan nilai kemanusiaan melalui 56 karya fotografi human interest. Pameran ini menjadi wujud konkret bahwa fotografi tidak sekadar mengabadikan momen, melainkan juga sarana menggugah empati dan menyuarakan cerita‑cerita yang jarang terdengar.
Acara diluncurkan pada tanggal 26 Juni 2023 di kampus UNDIRA, dengan dukungan dari Fakultas Seni Rupa dan Lembaga Pengembangan Mahasiswa. Selama tiga minggu, pameran terbuka untuk umum dan menarik perhatian mahasiswa, dosen, serta masyarakat luas.
Tujuan utama pameran
- Mengajak publik untuk lebih memahami tantangan sosial yang dihadapi oleh berbagai kelompok masyarakat.
- Memberdayakan mahasiswa sebagai dokumentator visual yang kritis dan peduli.
- Mendorong dialog lintas disiplin antara seni, ilmu sosial, dan kebijakan publik.
Setiap foto dipilih karena mampu menyampaikan narasi kuat, mulai dari potret petani yang berjuang melawan perubahan iklim, hingga cerita anak-anak pengungsi yang beradaptasi di lingkungan baru. Komposisi warna, cahaya, dan sudut pandang dipakai secara cermat untuk menonjolkan emosi serta konteks sosial masing‑masing subjek.
Berikut adalah contoh tema yang diangkat dalam beberapa foto unggulan:
- Ketahanan Pangan – Gambar ladang padi yang dipanen secara tradisional, menyoroti upaya petani menjaga ketersediaan makanan meski menghadapi cuaca ekstrem.
- Kesehatan Masyarakat – Potret tenaga medis di posyandu desa yang melayani ibu hamil dengan penuh dedikasi.
- Pendidikan Anak – Foto kelas luar ruang di daerah terpencil, menampilkan antusiasme anak-anak belajar meski fasilitas minim.
- Pengungsi Internasional – Wajah-wajah muda yang menatap masa depan dengan harapan di kamp pengungsi.
Pengunjung dapat menelusuri setiap foto melalui katalog digital yang disediakan di ruang pamer. Katalog tersebut memuat keterangan singkat, lokasi pengambilan, serta latar belakang cerita di balik gambar.
Respons publik terhadap pameran sangat positif. Banyak pengunjung yang menyatakan terinspirasi untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial atau bahkan menekuni fotografi sebagai media aktivisme. Salah satu dosen seni rupa, Ibu Rina Suryani, menilai, “Karya-karya ini menunjukkan bahwa seni visual dapat menjadi jembatan antara fakta dan perasaan, menggerakkan hati sekaligus otak.”
Mahasiswa penyusun pameran menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan proyek serupa di masa depan, dengan harapan dapat memperluas jangkauan cerita‑cerita kemanusiaan di tingkat regional maupun nasional.