Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyoroti masalah gaji guru yang masih berada di level rendah sebagai konsekuensi langsung dari kebocoran anggaran yang terjadi di pemerintahan. Menurutnya, praktik laporan ekspor palsu yang dilakukan oleh sejumlah pengusaha telah menimbulkan kerugian negara hingga ribuan triliun rupiah, yang pada gilirannya mengurangi alokasi dana untuk sektor pendidikan.
Berikut beberapa poin penting yang disampaikan Presiden:
- Skala kerugian: Laporan ekspor fiktif diperkirakan merugikan negara dalam kisaran beberapa ribu triliun rupiah selama beberapa tahun terakhir.
- Dampak pada anggaran pendidikan: Karena sebagian besar anggaran dialokasikan untuk menutup defisit yang ditimbulkan oleh kebocoran tersebut, dana yang semula dialokasikan untuk peningkatan gaji guru menjadi terpaksa dipotong atau tidak dinaikkan secara signifikan.
- Konsekuensi bagi tenaga pendidik: Gaji yang tidak memadai berpotensi menurunkan motivasi guru, mempengaruhi kualitas pengajaran, dan memperburuk kesenjangan pendidikan di wilayah perkotaan dan pedesaan.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya tindakan tegas untuk menutup celah kebocoran anggaran, antara lain:
- Mengoptimalkan sistem audit internal dan eksternal pada tiap kementerian terkait.
- Memberlakukan sanksi berat bagi pihak yang terbukti melakukan laporan palsu atau manipulasi data keuangan.
- Meninjau kembali prioritas alokasi anggaran dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan nasional.
Ia juga mengajak semua pihak, termasuk legislatif, aparat penegak hukum, dan sektor swasta, untuk berkolaborasi dalam menciptakan transparansi anggaran yang lebih ketat. Harapannya, dengan menutup kebocoran dana, pemerintah dapat mengembalikan kepercayaan publik dan meningkatkan kesejahteraan guru melalui kenaikan gaji yang layak.