Setapak Langkah – 15 Juni 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi topik perbincangan publik setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa sekitar 43 juta siswa di Indonesia masih bergantung pada layanan makanan bergizi di sekolah.
Berbagai alasan mendorong dukungan luas terhadap kelanjutan MBG. Di antaranya, manfaat kesehatan, peningkatan konsentrasi belajar, serta peran program dalam mengurangi angka putus sekolah.
- Kesehatan dan Gizi: Anak-anak yang menerima makanan bergizi secara rutin menunjukkan penurunan tingkat kekurangan gizi dan anemia.
- Prestasi Akademik: Sekolah yang melaksanakan MBG melaporkan peningkatan nilai rata-rata ujian nasional.
- Keamanan Sosial: Bagi keluarga berpenghasilan rendah, MBG berfungsi sebagai jaring pengaman pangan.
| Indikator | Data Nasional |
|---|---|
| Jumlah Siswa Sasaran MBG | ≈ 43 juta |
| Penurunan Prevalensi Stunting (2022‑2023) | ‑1,8 % |
| Peningkatan Nilai Rata‑Rata UN (2022) | +0,4 poin |
Namun, keberlangsungan program tidak lepas dari tantangan, seperti pendanaan yang masih bergantung pada alokasi anggaran pusat dan daerah, serta kebutuhan logistik yang meliputi distribusi makanan ke lebih dari 200.000 sekolah.
Pemerintah telah merencanakan peningkatan anggaran pendidikan sebesar 15 % pada tahun anggaran berikutnya, yang diharapkan dapat menutupi sebagian besar biaya operasional MBM. Selain itu, kerjasama dengan sektor swasta dan LSM diharapkan dapat menambah sumber daya serta inovasi dalam penyediaan makanan.
Dengan dukungan luas dari orang tua, guru, dan pemangku kepentingan lainnya, harapan besar tetap mengiringi MBG untuk menjadi program jangka panjang yang dapat menjamin hak anak Indonesia atas gizi yang cukup dan pendidikan berkualitas.