Setapak Langkah – 14 Juni 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekrit pada 13 Juni 2026 yang menetapkan total personel Angkatan Bersenjata Rusia mencapai 2,3 juta orang, meningkat secara signifikan dibandingkan data sebelumnya.
Keputusan ini diambil di tengah konflik berkelanjutan di Ukraina, di mana Rusia telah melakukan beberapa gelombang mobilisasi untuk memperkuat front militer. Dekrit tersebut menegaskan bahwa jumlah personel mencakup pasukan aktif, cadangan, serta unit paramiliter yang berada di bawah kontrol kementerian pertahanan.
| Kategori | Jumlah Personel |
|---|---|
| Pasukan Aktif | ≈1,010,000 |
| Cadangan | ≈1,200,000 |
| Paramiliter & Lembaga Keamanan | ≈90,000 |
Dengan total 2,3 juta personel, Rusia kini menempati posisi kedua teratas di dunia setelah Tiongkok dalam hal ukuran angkatan bersenjata. Namun, besarnya angka tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan logistik, kesiapan operasional, serta dampak ekonomi domestik.
Implikasi strategis meliputi:
- Penguatan kemampuan deterrence terhadap NATO dan sekutu‑sekutunya.
- Peningkatan beban anggaran pertahanan yang diproyeksikan mencapai hampir 5 % dari PDB, menekan sektor sosial dan infrastruktur.
- Kesulitan dalam merekrut dan melatih personel baru, mengingat tingkat mortalitas dan cedera yang tinggi dalam konflik Ukraina.
- Potensi penurunan moral di antara pasukan yang sudah lama terlibat dalam operasi bersenjata.
Secara ekonomi, penambahan lebih dari satu juta personel cadangan menuntut peningkatan fasilitas pelatihan, peralatan, serta tunjangan, yang dapat memperlebar defisit anggaran federal. Di sisi lain, pemerintah berharap bahwa skala personel yang lebih besar akan memperkuat posisi tawar Rusia dalam negosiasi internasional.
Meski angka 2,3 juta terdengar mengintimidasi, efektivitas militer tidak semata-mata ditentukan oleh kuantitas. Kualitas peralatan, pelatihan modern, serta kemampuan strategi tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan hasil konflik yang sedang berlangsung.