Setapak Langkah – 14 Juni 2026 | Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya meningkatkan konsumsi susu sebagai bagian integral upaya memperbaiki gizi dan kesehatan generasi muda Indonesia. Dalam sebuah pernyataan resmi, ia menyoroti bahwa susu mengandung protein, kalsium, vitamin D, dan mineral esensial yang berperan dalam pertumbuhan tulang, sistem imun, dan perkembangan otak.
Strategi Penguatan Konsumsi Susu
- Program Sekolah Sehat: Distribusi susu gratis atau bersubsidi di sekolah dasar dan menengah pertama, dengan fokus pada wilayah dengan tingkat gizi rendah.
- Subsidi Harga Susu: Penetapan harga eceran susu yang terjangkau melalui skema subsidi bagi keluarga berpendapatan rendah.
- Kampanye Edukasi Gizi: Penyuluhan tentang manfaat susu melalui media massa, media sosial, dan kegiatan komunitas.
- Peningkatan Produksi Lokal: Dukungan kepada peternak sapi perah melalui bantuan modal, pelatihan teknis, dan akses pasar.
- Standar Mutu dan Keamanan: Penguatan regulasi pengawasan mutu susu untuk memastikan produk bebas kontaminan dan terjamin kebersihannya.
Berikut perkiraan target konsumsi susu per kelompok usia yang direncanakan pemerintah:
| Kelompok Usia | Target Konsumsi (liter/tahun) |
|---|---|
| 0–1 tahun (susu formula) | 30 |
| 2–6 tahun | 20 |
| 7–12 tahun | 18 |
| Remaja 13–18 tahun | 15 |
| Dewasa | 12 |
Hanif Faisol Nurofiq menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif dari industri susu, lembaga pendidikan, serta orang tua. Ia mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang memudahkan akses dan konsumsi susu berkualitas, sehingga generasi mendatang dapat tumbuh kuat, cerdas, dan sehat.
Jika tercapai, peningkatan konsumsi susu diproyeksikan dapat menurunkan angka stunting hingga 15 % dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja di masa depan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi peternak dan produsen susu domestik.