Setapak Langkah – 13 Juni 2026 | Persediaan produk minyak di Singapura mengalami penurunan signifikan, mencapai level terendah dalam 13 tahun terakhir. Penurunan ini dipicu oleh gangguan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah, khususnya akibat ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur penyeluran utama bagi lebih dari tiga perempat minyak dunia, mengalami gangguan navigasi sejak awal tahun ini. Ketegangan militer serta ancaman penangkapan kapal tanker menyebabkan para pengirim memilih rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, sehingga mengurangi volume minyak yang tiba di pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Singapura.
Berikut ini gambaran perubahan cadangan minyak di Singapura selama tiga tahun terakhir:
| Tahun | Cadangan (juta barel) |
|---|---|
| 2021 | 350 |
| 2022 | 320 |
| 2023 | 285 |
| 2024 (Jan‑Mei) | 210 |
Data tersebut menunjukkan penurunan hampir 40% dibandingkan puncak tahun 2021. Penurunan ini memberi tekanan pada industri petrokimia dan transportasi di Singapura, yang sangat bergantung pada pasokan minyak stabil untuk menjaga operasi pabrik dan pelabuhan.
Para analis memperkirakan bahwa jika konflik di Hormuz tidak segera mereda, cadangan minyak Singapura dapat turun lebih jauh, berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar domestik dan menurunkan daya saing logistik negara tersebut.
Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Timur Tengah, pemerintah Singapura telah mempercepat diversifikasi sumber energi, termasuk peningkatan impor LNG (gas alam cair) serta investasi dalam energi terbarukan. Namun, perubahan struktural ini membutuhkan waktu, sementara pasar masih merasakan dampak langsung dari krisis Hormuz.
Secara keseluruhan, krisis di Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu geopolitik, melainkan juga mengancam stabilitas ekonomi regional dengan menurunkan cadangan energi penting di salah satu pusat perdagangan terbesar dunia.