Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, dengan Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter. Kebijakan ini diambil menyusul pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi global.
Kelompok masyarakat yang paling terasa dampaknya adalah kelas menengah. Mereka biasanya memiliki pengeluaran tetap untuk transportasi, baik pribadi maupun keluarga, namun tidak memiliki subsidi pemerintah yang dapat meredam beban biaya bahan bakar.
- Rata‑rata konsumsi Pertamax per rumah tangga kelas menengah diperkirakan sekitar 30‑40 liter per bulan.
- Kenaikan harga sebesar Rp2.250 per liter menambah beban sekitar Rp67.500‑Rp90.000 tiap bulan.
- Jika dikalikan dengan rata‑rata gaji bersih sekitar Rp5 juta, beban tambahan tersebut menyentuh 1,4‑1,8 % dari pendapatan bulanan.
Selain beban langsung, kenaikan BBM juga menimbulkan efek berantai pada biaya hidup. Harga transportasi umum, ongkos kirim barang, dan tarif taksi daring turut naik, memperparah tekanan inflasi pada kebutuhan pokok seperti makanan dan listrik.
Berbagai pihak menyuarakan keprihatinan. Lembaga konsumen menuntut pemerintah agar menyediakan alternatif subsidi atau program bantuan khusus bagi keluarga berpenghasilan menengah. Sementara asosiasi pengusaha mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM dapat menurunkan daya beli konsumen dan menurunkan pertumbuhan sektor ritel.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM memang dapat menstabilkan neraca perdagangan, namun perlu diimbangi dengan kebijakan protektif untuk kelompok rentan. Beberapa opsi yang dibahas meliputi:
- Penerapan subsidi silang yang menyalurkan bantuan langsung tunai kepada rumah tangga menengah.
- Pengembangan insentif bagi kendaraan berbahan bakar alternatif, seperti listrik atau LPG, yang dapat mengurangi ketergantungan pada Pertamax.
- Peningkatan efisiensi publik transportasi untuk menurunkan biaya operasional dan tarif penumpang.
Jika tidak ditangani secara tepat, beban biaya bahan bakar dapat memperlebar kesenjangan ekonomi dan memperlambat pemulihan pasca‑pandemi. Pemerintah diharapkan menyusun langkah komprehensif yang tidak hanya menyesuaikan harga, tetapi juga melindungi daya beli kelas menengah demi kestabilan ekonomi jangka panjang.