Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Rupiah mengalami tekanan berat pada awal tahun 2024, memuncak pada nilai tukar di atas 16.000 per dolar. Meskipun demikian, ekonom senior Fuad Bawazier menegaskan bahwa situasi ekonomi Indonesia kini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998.
Beberapa indikator penting lainnya yang menunjukkan perbedaan kondisi antara dua periode dapat dilihat pada tabel berikut:
| Indikator | 1998 | 2024 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB | -0,5 % | +5,0 % |
| Inflasi | ≈60 % | ≈2,5 % |
| Cadangan devisa | US$5 miliar | US$140 miliar |
| Utang publik | ≈40 % PKB | ≈30 % PKB |
| Pengangguran | ≈7 % | ≈5 % |
Selain indikator makroekonomi, struktur pasar keuangan juga mengalami perubahan signifikan. Pada era 1998, sistem perbankan hampir runtuh, memaksa pemerintah melakukan restrukturisasi besar-besaran. Saat ini, perbankan Indonesia berada dalam kondisi likuiditas yang cukup kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) rata-rata di atas 20 %.
Fuad juga menyoroti peran kebijakan fiskal dan moneter yang lebih terkoordinasi. Bank Indonesia kini memiliki kerangka kebijakan yang transparan, sementara pemerintah menyalurkan stimulus melalui program infrastruktur dan bantuan sosial yang terukur.
Meski nilai tukar Rupiah tetap menjadi tantangan, Bawazier menekankan bahwa fondasi ekonomi yang lebih kuat, cadangan devisa yang memadai, dan sistem keuangan yang stabil mengurangi risiko terulangnya krisis 1998. Oleh karena itu, penurunan nilai Rupiah tidak serta merta menandakan kegagalan ekonomi secara keseluruhan.