Setapak Langkah – 06 Juni 2026 | Komunitas bisnis Tiongkok menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap rencana Amerika Serikat untuk menambah tarif impor pada sejumlah produk yang diduga diproduksi dengan menggunakan kerja paksa. Kebijakan ini, yang diumumkan oleh Departemen Perdagangan AS pada awal bulan ini, menargetkan barang-barang tekstil, pakaian, serta beberapa produk konsumen dari wilayah Xinjiang.
Para pengusaha China menilai langkah tersebut tidak berdasar dan berpotensi merusak rantai pasokan global. Mereka menekankan bahwa banyak perusahaan multinasional telah melakukan audit independen dan menemukan tidak ada bukti kuat mengenai pelanggaran hak asasi manusia di pabrik-pabrik terkait.
Beberapa poin utama yang disampaikan oleh asosiasi bisnis China meliputi:
- Penambahan tarif dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing produk China di pasar internasional.
- Kebijakan tarif bersifat diskriminatif karena hanya menargetkan produk dari satu wilayah tanpa mempertimbangkan standar kerja secara global.
- Penegakan tarif dapat memicu balasan perdagangan yang berujung pada perang dagang lebih luas.
Selain itu, pejabat China menegaskan komitmen mereka terhadap standar kerja yang adil dan menyatakan bahwa mereka siap bekerjasama dengan pihak internasional untuk meningkatkan transparansi. Namun, mereka menolak intervensi unilateral yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi nasional.
Para analis memperkirakan bahwa jika tarif tambahan diberlakukan, biaya impor barang dari China ke AS dapat naik antara 10 hingga 25 persen, tergantung pada jenis produk. Kenaikan biaya ini berpotensi diteruskan kepada konsumen akhir, yang pada gilirannya dapat menurunkan permintaan terhadap produk China di pasar Amerika.