Setapak Langkah – 05 Juni 2026 | Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh fluktuasi nilai tukar, inflasi tinggi, dan gejolak geopolitik menuntut investor untuk meninjau kembali strategi alokasi aset. Di tengah kondisi tersebut, fokus utama adalah membangun portofolio yang dapat menahan goncangan pasar sekaligus tetap menghasilkan imbal hasil yang wajar.
Beberapa prinsip utama dalam membangun portofolio minim risiko meliputi:
- Diversifikasi lintas kelas aset: menyebar dana ke saham, obligasi, reksa dana pasar uang, emas, dan properti.
- Penyesuaian alokasi berdasarkan profil risiko: investor konservatif menekankan obligasi pemerintah dan instrumen uang, sementara investor moderat dapat menambahkan saham blue-chip.
- Pemilihan instrumen dengan likuiditas tinggi: memastikan dana dapat dicairkan dengan cepat bila diperlukan.
- Monitoring dan rebalancing periodik: menyesuaikan proporsi aset setiap kuartal atau saat terjadi perubahan signifikan di pasar.
Berikut contoh alokasi aset yang umum dipakai untuk investor dengan toleransi risiko rendah:
| Kelas Aset | Persentase | Tingkat Risiko | Estimasi Imbal Hasil Tahunan |
|---|---|---|---|
| Obligasi Pemerintah | 40% | Rendah | 4-6% |
| Reksa Dana Pasar Uang | 25% | Rendah | 3-5% |
| Emas | 15% | Sedang | 5-7% |
| Saham Blue-Chip | 15% | Sedang | 7-10% |
| Properti atau REIT | 5% | Sedang | 6-9% |
Strategi di atas tidak menjamin kebal terhadap semua gejolak, namun dengan memperhatikan diversifikasi, likuiditas, dan penyesuaian rutin, investor dapat mengurangi volatilitas portofolio serta meningkatkan peluang pencapaian tujuan keuangan jangka menengah hingga panjang.