Setapak Langkah – 05 Juni 2026 | Data resmi yang dirilis pemerintah Jepang pada Rabu, 3 Juni 2025, mengungkapkan penurunan tajam pada jumlah kelahiran dan tingkat kesuburan negara tersebut, mencetak rekor terendah dalam sejarah modern. Pada tahun 2025, hanya sekitar 795.000 bayi lahir, menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 820.000 kelahiran. Tingkat kesuburan (jumlah anak per wanita) juga turun menjadi 1,28, jauh di bawah tingkat pengganti (2,1) yang diperlukan untuk mempertahankan populasi stabil.
Berikut rangkuman data kelahiran selama beberapa dekade terakhir:
| Tahun | Jumlah Kelahiran (ribu) | Tingkat Kesuburan (anak/wanita) |
|---|---|---|
| 1990 | 1.340 | 1,54 |
| 2000 | 1.190 | 1,36 |
| 2010 | 1.070 | 1,39 |
| 2020 | 865 | 1,34 |
| 2024 | 820 | 1,31 |
| 2025 | 795 | 1,28 |
Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait struktur demografis Jepang. Dengan populasi usia produktif yang menyusut, tekanan pada sistem pensiun, layanan kesehatan, serta pasar tenaga kerja semakin meningkat. Pemerintah telah mengumumkan serangkaian kebijakan untuk merangsang pertumbuhan angka kelahiran, antara lain memperluas subsidi bagi keluarga dengan anak, memperkenalkan cuti melahirkan yang lebih fleksibel, serta meningkatkan dukungan penitipan anak.
Namun, para pengamat menilai bahwa faktor-faktor budaya dan ekonomi—seperti biaya hidup tinggi, tantangan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga, serta persepsi tentang peran gender—masih menjadi penghalang utama. Upaya jangka panjang yang mengintegrasikan kebijakan fiskal, reformasi pasar kerja, serta perubahan sosial dipandang sebagai kunci untuk membalikkan tren penurunan ini.