Setapak Langkah – 03 Juni 2026 | Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia‑Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, menekankan pentingnya generasi muda Indonesia mengadopsi etos dan budaya kerja Tiongkok agar tidak hanya menjadi pasar, melainkan juga pemain kompetitif di panggung global.
Budaya kerja Tiongkok dikenal dengan disiplin tinggi, jam kerja yang panjang, fokus pada hasil, dan semangat kolektif. Praktik‑praktik tersebut, menurut Basnur, mampu meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses inovasi bila diterapkan secara tepat.
Dengan mengintegrasikan prinsip‑prinsip tersebut, Indonesia dapat meningkatkan daya saing produk dan layanan, menarik investasi asing, serta memperkuat posisi dalam rantai pasokan internasional.
Berikut beberapa langkah yang diusulkan untuk mewujudkan adopsi budaya kerja tersebut:
- Mengintegrasikan modul tentang etos kerja Tiongkok dalam kurikulum pendidikan menengah dan perguruan tinggi.
- Menyelenggarakan program pertukaran pelajar dan magang di perusahaan‑perusahaan Tiongkok.
- Mendorong perusahaan Indonesia untuk mengadopsi standar manajemen waktu dan target yang ketat.
- Memberikan insentif bagi startup yang menerapkan model kerja efisien dan kolaboratif.
- Melakukan pelatihan kepemimpinan yang menekankan pada tanggung jawab kolektif dan hasil yang terukur.
Meski demikian, Basnur mengingatkan bahwa adaptasi harus disesuaikan dengan nilai lokal. Risiko kelelahan kerja dan ketidaksesuaian budaya harus diantisipasi melalui kebijakan yang menjamin keseimbangan kerja‑hidup.
Penguatan hubungan bilateral Indonesia‑Tiongkok melalui pertukaran budaya kerja diharapkan menjadi katalisator bagi generasi muda untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.