Setapak Langkah – 02 Juni 2026 | Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappidas) memperkirakan bahwa dampak perubahan iklim dapat menelan biaya ekonomi nasional hingga sekitar Rp2.005 triliun dalam kurun waktu 2023‑2030. Perhitungan tersebut didasarkan pada model ekonomi‑klimat yang menggabungkan skenario peningkatan suhu, intensitas curah hujan, serta frekuensi bencana alam.
Kerugian terbesar diproyeksikan terjadi pada sektor pertanian, perikanan, dan infrastruktur. Pada sektor pertanian, penurunan hasil panen akibat perubahan pola curah hujan diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar Rp750 triliun. Sektor perikanan diperkirakan kehilangan Rp300 triliun, sedangkan sektor infrastruktur, terutama jalan dan jembatan, diperkirakan mengalami kerusakan senilai Rp400 triliun.
Berikut rincian estimasi kerugian per sektor:
- Pertanian: Rp750 triliun
- Perikanan: Rp300 triliun
- Infrastruktur: Rp400 triliun
- Kesehatan: Rp200 triliun
- Energi: Rp155 triliun
Model tersebut juga menyoroti potensi beban fiskal tambahan akibat meningkatnya biaya penanggulangan bencana, asuransi, dan adaptasi. Pemerintah berencana mengintegrasikan temuan ini ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta memperkuat kebijakan mitigasi, termasuk peningkatan investasi pada energi terbarukan dan program penanaman kembali hutan.
Para ahli menekankan pentingnya aksi cepat, mengingat besarnya biaya yang dapat dihindari jika langkah adaptasi dan mitigasi diterapkan secara terpadu. Dengan menurunkan emisi gas rumah kaca serta memperkuat ketahanan sektor‑sektor rentan, diperkirakan beban ekonomi dapat ditekan secara signifikan.