histats

Masjid Hilang Adzan, Kisah Ketabahan Pengurus Tua di Masjid Kamal Maula

Masjid Hilang Adzan, Kisah Ketabahan Pengurus Tua di Masjid Kamal Maula

Setapak Langkah – 27 Mei 2026 | Jakarta – Seorang pria berusia 78 tahun bernama Mohammad Rafiq telah menjadi sosok yang tak terpisahkan dari Masjid Kamal Maula, sebuah masjid tua yang terletak di jantung kota. Meskipun suaranya kini pelan dan tubuhnya sudah lemah, Rafiq tetap setia menunaikan tugasnya menaiki tangga masjid setiap hari untuk mengumandangkan adzan, meskipun pada beberapa waktu terakhir suara adzan tersebut hampir tidak terdengar.

Rafiq, yang dikenal oleh warga setempat sebagai “penjaga adzan”, memulai kebiasaannya sejak puluhan tahun lalu. Ia menganggap adzan bukan sekadar panggilan sholat, melainkan simbol kehadiran spiritual yang menghubungkan umat dengan Tuhan. Setiap pagi, sebelum fajar, ia menyiapkan dirinya, menggosokkan suara yang tersisa, dan melangkah menapaki tangga sempit yang mengarah ke menara adzan.

Namun, seiring bertambahnya usia, kualitas suara Rafiq menurun. Penduduk sekitar mulai memperhatikan bahwa adzan yang biasanya mengalun kuat kini menjadi lirih, bahkan kadang terhenti. Beberapa warga berinisiatif menghubungi dewan masjid untuk mencari solusi, namun Rafiq menolak digantikan. “Selama saya masih mampu, adzan tetap harus keluar dari menara ini,” ujarnya dengan tegas.

  • Usia: 78 tahun
  • Masjid: Kamal Maula, Jakarta
  • Tugas: Mengumandangkan adzan harian
  • Kondisi: Suara pelan, tubuh renta

Masjid Kamal Maula sendiri merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada era kolonial Belanda, dengan arsitektur tradisional yang masih terjaga. Menara adzan yang tinggi menjadi ciri khasnya, sekaligus menjadi saksi bisu dari dedikasi Rafiq. Penduduk setempat menilai keberadaan Rafiq sebagai warisan budaya tak ternilai yang menambah nilai spiritual masjid.

Beberapa organisasi keagamaan dan komunitas relawan telah menawarkan bantuan berupa pengeras suara modern atau pelatihan vokal. Meski demikian, Rafiq menolak, menyatakan bahwa adzan harus tetap berasal dari suara manusia, bukan mesin. “Jika adzan diputar dari pengeras, maknanya hilang,” katanya.

Kisah Rafiq menarik perhatian media lokal dan menimbulkan perdebatan tentang pelestarian tradisi versus modernisasi fasilitas ibadah. Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa teknologi dapat membantu memastikan adzan terdengar jelas bagi jamaah. Di sisi lain, banyak yang menganggap keaslian suara manusia sebagai bagian penting dari identitas keagamaan.

Keputusan akhir masih belum ditentukan, namun satu hal yang pasti: dedikasi Rafiq telah menginspirasi generasi muda untuk menghargai nilai ketekunan, kesetiaan, dan pentingnya menjaga tradisi keagamaan. Cerita ini menjadi contoh nyata bahwa semangat keagamaan dapat tetap hidup meski tubuh sudah menua.

Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.
Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *