Setapak Langkah – 23 Mei 2026 | Kementerian Luar Negeri China menegaskan kembali penolakannya terhadap setiap bentuk penjualan senjata oleh Amerika Serikat kepada Taiwan, meskipun Washington baru-baru ini mengumumkan penghentian sementara pengiriman beberapa sistem persenjataan kepada pulau tersebut.
Pernyataan resmi yang disampaikan pada hari Selasa menekankan bahwa kebijakan “Satu China” tetap menjadi prinsip tak tergoyahkan dalam hubungan luar negeri Beijing. China menilai langkah AS tersebut sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri dan menambah ketegangan di Selat Taiwan.
Berikut poin-poin utama respons Beijing:
- Penjualan senjata kepada Taiwan dianggap melanggar kedaulatan China.
- Penghentian sementara tidak mengubah posisi China yang menolak segala bentuk dukungan militer bagi Taiwan.
- Beijing mengancam akan mengambil langkah diplomatik dan ekonomi bila AS melanjutkan kebijakan serupa.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa keputusan penundaan sementara dimaksudkan untuk menyesuaikan kebijakan penjualan dengan dinamika keamanan regional dan menanggapi tekanan diplomatik internasional.
Para pengamat menilai bahwa meskipun penjualan senjata ditunda, strategi pertahanan Taiwan tetap menjadi fokus utama, dengan kemungkinan peningkatan pembelian dari negara lain atau pengembangan kemampuan domestik.
Implikasi geopolitik yang muncul meliputi:
- Peningkatan ketegangan antara Beijing dan Washington, yang dapat memicu perlombaan retorika diplomatik.
- Potensi dampak pada pasar industri pertahanan global, mengingat peran Amerika sebagai penyedia utama senjata bagi Taiwan.
- Pengaruh terhadap stabilitas ekonomi di kawasan, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rantai pasokan militer.
China menutup dengan menegaskan kesiapan untuk melindungi kedaulatan nasionalnya dan mengingatkan semua pihak untuk menghormati prinsip “Satu China” demi keamanan dan perdamaian regional.