Setapak Langkah – 19 Mei 2026 | Rupiah terus mengalami tekanan nilai terhadap dolar AS, mengancam daya beli dan stabilitas ekonomi nasional. Dalam sebuah pertemuan, para pakar ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memaparkan serangkaian langkah yang dapat memperlambat atau mengatasi pelemahan tersebut.
- Diversifikasi ekspor: Meningkatkan nilai dan volume ekspor produk bernilai tinggi, seperti produk pertanian organik, manufaktur berteknologi, dan jasa digital, untuk menambah devisa masuk.
- Peningkatan produksi dalam negeri: Mendorong investasi pada sektor manufaktur dan pertanian guna mengurangi kebutuhan impor bahan baku kritis.
- Kebijakan moneter yang selektif: Bank Indonesia dapat menyesuaikan suku bunga acuan serta melakukan operasi pasar terbuka untuk menstabilkan nilai tukar tanpa menekan pertumbuhan ekonomi.
- Penguatan cadangan devisa: Memperluas sumber devisa melalui penjualan obligasi luar negeri, kerjasama investasi, dan pemanfaatan dana cadangan yang ada.
- Pengendalian inflasi: Menggunakan instrumen fiskal untuk menstabilkan harga pangan dan energi, sehingga tekanan pada nilai tukar dapat diminimalisir.
- Reformasi struktural: Memperbaiki iklim investasi, mempermudah perizinan, dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja untuk meningkatkan daya saing nasional.
Para pakar menekankan bahwa upaya mitigasi harus bersifat terpadu antara pemerintah, Bank Indonesia, dan sektor swasta. Tanpa koordinasi yang kuat, langkah-langkah individual dapat menghasilkan efek yang terbatas.
Dalam jangka menengah, mereka memperkirakan bahwa jika reformasi struktural berhasil dan ekspor bernilai tinggi terus meningkat, tekanan pada rupiah dapat berkurang secara signifikan, memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.