Setapak Langkah – 19 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini bersifat temporer dan dipengaruhi oleh faktor musiman. Menurut analisis internal BI, tekanan pada pasar valuta asing biasanya meningkat pada periode akhir tahun menjelang libur panjang dan penyesuaian portofolio investasi global.
Beberapa faktor yang memperparah pelemahan musiman antara lain aliran keluar modal jangka pendek, penjualan aset berisiko oleh investor asing, serta pergeseran likuiditas akibat penutupan bursa pada musim liburan. Kondisi ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat.
BI menyampaikan optimisme bahwa rupiah dapat kembali menguat mulai Juli 2026. Optimisme tersebut didukung oleh beberapa kebijakan dan indikator berikut:
- Peningkatan cadangan devisa yang berada pada level historis.
- Kebijakan suku bunga acuan yang stabil, memberikan daya tarik bagi aliran modal asing.
- Pembukaan kembali pasar modal domestik dengan likuiditas yang memadai.
- Proyeksi pertumbuhan ekonomi riil di atas 5% pada semester pertama 2026.
Berikut perkiraan nilai tukar rupiah terhadap dolar selama enam bulan ke depan menurut proyeksi BI:
| Bulan | Perkiraan Kurs (IDR/USD) |
|---|---|
| Juli 2026 | 14.300 |
| Agustus 2026 | 14.150 |
| September 2026 | 14.050 |
| Oktober 2026 | 14.000 |
| November 2026 | 13.950 |
| Desember 2026 | 13.900 |
Dengan kebijakan moneter yang prudent dan dukungan cadangan devisa yang kuat, BI berharap nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dan berkontribusi pada pencapaian target inflasi serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.