Setapak Langkah – 18 Mei 2026 | Pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut, menembus level Rp17.674 per dolar AS pada siang hari Senin (18/5). Kondisi ini menandakan tidak hanya fluktuasi harian, melainkan tekanan gabungan dari faktor global dan domestik.
Ekonom senior INDEF memperkirakan bahwa dalam jangka pendek rupiah dapat berfluktuasi hingga kisaran Rp17.900 per dolar, tergantung pada perkembangan pasar internasional dan kebijakan moneter dalam negeri.
- Faktor global: kebijakan suku bunga The Federal Reserve Amerika Serikat, pergerakan harga minyak mentah, serta sentimen risiko di pasar keuangan dunia.
- Faktor domestik: defisit neraca berjalan yang melebar, aliran masuk modal asing yang terpengaruh oleh nilai tukar, serta ekspektasi kebijakan Bank Indonesia terkait suku bunga dan intervensi pasar.
Jika nilai tukar mendekati atau melampaui batas Rp17.900, konsekuensi yang mungkin muncul meliputi:
- Peningkatan biaya impor, terutama untuk bahan baku energi dan barang konsumsi, yang selanjutnya dapat menambah tekanan inflasi.
- Penguatan daya beli masyarakat menurun, berpotensi memperlambat pertumbuhan konsumsi domestik.
- Bank Indonesia mungkin akan mempertimbangkan penyesuaian suku bunga acuan atau melakukan intervensi di pasar spot untuk menstabilkan rupiah.
Para analis menyarankan agar pelaku usaha dan konsumen memonitor pergerakan kurs secara rutin dan menyiapkan strategi mitigasi, seperti mengunci harga dalam kontrak jangka pendek atau memanfaatkan instrumen lindung nilai bila memungkinkan.
Secara keseluruhan, meski volatilitas tetap tinggi, ekspektasi jangka menengah masih mengarah pada kebijakan moneter yang berhati-hati, dengan tujuan menurunkan inflasi tanpa menimbulkan guncangan berlebih pada pasar valuta asing.