Setapak Langkah – 17 Mei 2026 | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikbud), Abdul Mu’ti, melakukan inspeksi langsung ke sejumlah gedung sekolah yang menjadi bagian dari program revitalisasi nasional. Program ini menargetkan 71.744 sekolah yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) serta daerah yang rawan bencana, untuk ditingkatkan kualitasnya pada tahun 2026.
Visi utama revitalisasi adalah memastikan setiap anak di wilayah paling terpencil dan terdampak bencana mendapatkan akses fasilitas belajar yang aman, layak, dan mendukung proses pembelajaran. Revitalisasi mencakup perbaikan struktur bangunan, penyediaan listrik, air bersih, sanitasi, serta instalasi teknologi informasi.
- Jumlah sekolah yang teridentifikasi: 71.744 unit.
- Prioritas wilayah: 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan daerah rawan gempa, banjir, serta tanah longsor.
- Anggaran yang dialokasikan: diperkirakan Rp 45 triliun selama empat tahun ke depan.
- Target penyelesaian: semua sekolah terpilih selesai revitalisasi paling lambat akhir 2026.
- Pelibatan stakeholder: pemerintah daerah, lembaga donor, serta sektor swasta melalui skema public‑private partnership.
Selama kunjungan, Menteri menekankan pentingnya koordinasi lintas‑sektor agar proyek dapat berjalan tepat waktu dan sesuai standar keamanan. Ia juga mengingatkan bahwa revitalisasi bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan harus diiringi peningkatan kualitas guru, kurikulum, dan akses digital.
Dengan fokus pada 3T dan daerah bencana, diharapkan kesenjangan pendidikan antar wilayah dapat berkurang signifikan, serta tingkat partisipasi sekolah meningkat. Pemerintah berkomitmen memantau progres secara berkala melalui laporan triwulanan dan evaluasi independen.