Setapak Langkah – 17 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menanggapi pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat dengan nada yang terkesan santai. Ia menegaskan bahwa penurunan nilai tukar tidak serta-merta memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama yang tinggal di daerah pedesaan.
Dalam sebuah pernyataan singkat yang disampaikan kepada wartawan, Prabowo menambahkan, “Rakyat di desa tidak memakai dolar kok, mereka tetap bertransaksi dengan rupiah. Jadi, jangan terlalu khawatir dengan fluktuasi sementara ini.” Pernyataan tersebut muncul setelah pasar valuta asing mencatat penurunan nilai tukar rupiah pada minggu lalu, dipicu oleh tekanan eksternal serta faktor domestik.
Berikut merupakan rangkuman singkat pergerakan nilai tukar rupiah selama tiga minggu terakhir:
| Minggu | Rata‑Rata Kurs (IDR/USD) |
|---|---|
| Minggu 1 | Rp 17.200 |
| Minggu 2 | Rp 17.420 |
| Minggu 3 | Rp 17.600 |
Meski nilai tukar berada pada level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah tetap optimis bahwa kebijakan moneter dan fiskal yang sedang dijalankan akan menstabilkan kurs. Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan likuiditas tambahan serta memperkuat intervensi di pasar valuta asing bila diperlukan.
Para analis ekonomi menilai bahwa faktor utama pelemahan rupiah berasal dari apresiasi dolar AS di pasar global serta aliran modal keluar yang masih terasa. Namun, mereka juga mengakui bahwa fundamental ekonomi domestik, seperti pertumbuhan PDB yang tetap positif dan defisit neraca berjalan yang relatif terkendali, memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.
Di sisi lain, komentar Prabowo juga mencerminkan upaya pemerintah untuk meredam kepanikan di kalangan masyarakat. Dengan menegaskan bahwa transaksi di desa tetap menggunakan mata uang lokal, ia berharap dapat menurunkan ekspektasi inflasi dan menjaga kepercayaan konsumen.
Secara umum, situasi nilai tukar rupiah masih dipantau secara intensif oleh otoritas terkait. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi lintas sektoral, termasuk kebijakan fiskal yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan penguatan sektor ekspor.