Setapak Langkah – 16 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level Rp17.600 per dolar AS, menandai penurunan signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat luas.
Gubernur Jenderal Prabowo Subianto menanggapi situasi tersebut dengan nada optimis. Ia menyatakan bahwa selama masa transisi dan tantangan ekonomi, Indonesia dapat “senyum tenang saja” karena fondasi ekonomi negara tetap kuat.
Beberapa faktor yang berkontribusi pada melemahnya rupiah antara lain:
- Kenaikan suku bunga utama di Amerika Serikat yang menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.
- Fluktuasi harga komoditas ekspor utama Indonesia, khususnya batu bara dan kelapa sawit.
- Sentimen risiko global yang meningkat akibat ketegangan geopolitik.
Berikut ringkasan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam lima hari terakhir:
| Tanggal | Nilai Tukar (IDR/USD) |
|---|---|
| 10 Mei 2026 | 17.200 |
| 11 Mei 2026 | 17.350 |
| 12 Mei 2026 | 17.480 |
| 13 Mei 2026 | 17.550 |
| 14 Mei 2026 | 17.610 |
Prabowo menekankan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten, serta cadangan devisa yang memadai, menjadi penyangga utama dalam menghadapi gejolak nilai tukar. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen meningkatkan daya saing ekspor dan memperkuat sektor manufaktur guna menstabilkan mata uang.
Pengamat ekonomi menilai bahwa meskipun penurunan nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor, dampaknya terhadap inflasi konsumen belum tentu signifikan karena sebagian besar barang konsumsi domestik masih didominasi produksi dalam negeri.
Secara keseluruhan, pernyataan Prabowo mencerminkan keyakinan politik bahwa Indonesia mampu melewati tantangan nilai tukar dengan stabilitas makroekonomi yang solid, sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tidak panik dan tetap percaya pada prospek jangka panjang ekonomi nasional.