Setapak Langkah – 06 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran perlu menandatangani perjanjian yang sesuai dengan kepentingan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, di mana Trump menyoroti pentingnya kesepakatan yang dapat mengatasi isu-isu nuklir dan terorisme.
Trump menambahkan bahwa perjanjian yang ada saat ini, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Washington. Menurutnya, Iran harus menunjukkan komitmen nyata dalam menurunkan tingkat pengayaan uranium, mengizinkan inspeksi yang lebih ketat, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok militan di wilayah Timur Tengah.
Beberapa poin utama yang diharapkan oleh administrasi Trump meliputi:
- Pembatasan jumlah uranium yang diproduksi dan tingkat pengayaan maksimum.
- Pengawasan internasional yang lebih intensif oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
- Penghentian dukungan finansial dan logistik kepada organisasi teroris.
- Transparansi penuh dalam program militer Iran.
Jika Iran tidak dapat menegosiasikan kembali perjanjian yang dianggap “tepat” oleh Amerika, Washington siap menimbang kembali sanksi ekonomi yang telah dilonggarkan sejak 2015. Trump menegaskan bahwa sanksi tersebut dapat diberlakukan kembali secara bertahap, tergantung pada respons Iran.
Reaksi dari kalangan internasional beragam. Beberapa negara sekutu Amerika Serikat mendukung pendekatan tegas Trump, sementara negara-negara lain menyerukan dialog yang lebih konstruktif. Di dalam negeri, para pengamat politik memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat memengaruhi dinamika politik Iran serta hubungan Amerika dengan sekutu regionalnya.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump menandai kembali tekad administrasinya untuk menegakkan kebijakan luar negeri yang menekankan keamanan nasional Amerika, khususnya dalam hal pencegahan proliferasi nuklir dan pemberantasan terorisme.