Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Harga pupuk di pasar internasional mengalami lonjakan lebih dari 40% pada kuartal pertama 2024, dipicu oleh gangguan rantai pasokan, kenaikan biaya energi, dan penurunan produksi di beberapa negara produsen utama.
Kenaikan tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi negara‑negara pengimpor, terutama Indonesia yang merupakan salah satu konsumen pupuk terbesar di Asia Tenggara. Untuk menahan beban pada petani, pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penurunan harga pupuk dalam negeri sebesar 20% melalui skema subsidi baru.
| Parameter | Nilai Internasional | Nilai Nasional |
|---|---|---|
| Kenaikan Harga Pupuk (global) | +40% | – |
| Penurunan Harga Pupuk (Indonesia) | – | -20% |
| Target Subsidi Pemerintah | – | Rp 15 triliun (2024) |
Skema subsidi yang baru mencakup pupuk urea, NPK, dan ZA, dengan mekanisme distribusi melalui koperasi dan dealer resmi. Pemerintah menargetkan penurunan harga jual kepada petani menjadi sekitar Rp 4.500 per kilogram, dibandingkan dengan harga pasar sebelumnya yang mencapai Rp 6.000 per kilogram.
- Tujuan utama: menjaga daya saing produk pertanian nasional dan mencegah inflasi pangan.
- Manfaat bagi petani: mengurangi biaya produksi sehingga margin keuntungan dapat dipertahankan.
- Risiko: beban fiskal pemerintah meningkat, sementara pasar global tetap tidak stabil.
Pengamat ekonomi menilai langkah ini sebagai upaya strategis untuk menstabilkan sektor pertanian dalam kondisi pasar global yang bergejolak. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa kebijakan subsidi harus diiringi dengan reformasi struktural, seperti peningkatan efisiensi penggunaan pupuk dan diversifikasi sumber energi, untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Jika tren kenaikan harga global terus berlanjut, pemerintah diperkirakan akan meninjau kembali besaran subsidi pada akhir tahun fiskal guna menyeimbangkan antara dukungan kepada petani dan keberlanjutan keuangan negara.