Setapak Langkah – 03 Mei 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap berkomitmen mempertahankan penggunaan batu bara dalam bauran energi nasional. Keputusan ini diambil untuk memastikan tarif listrik tetap terjangkau bagi konsumen, terutama di tengah inflasi dan tekanan biaya hidup yang meningkat.
- Biaya produksi listrik berbasis batu bara lebih rendah dibandingkan sumber energi lain.
- Pembangkit listrik berbasis batu bara sudah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.
- Transisi cepat ke energi terbarukan memerlukan dana investasi yang signifikan dan dapat meningkatkan tarif listrik sementara.
- Pemerintah berencana meningkatkan efisiensi pembangkit batu bara melalui teknologi pembakaran bersih.
Dalam rapat koordinasi energi, Bahlil juga menyampaikan target pemerintah untuk menurunkan intensitas energi karbon hingga 2030, namun dengan tetap mengandalkan batu bara sebagai penopang stabilitas pasokan listrik. Ia menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan energi berkelanjutan dan kepentingan ekonomi rakyat.
Selain itu, kementerian ESDM sedang menggali peluang pengembangan pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, dan tenaga surya di daerah yang memiliki potensi tinggi, namun prosesnya diperkirakan memakan waktu beberapa tahun. Oleh karena itu, batu bara dipandang sebagai “jembatan” yang diperlukan untuk menjaga harga listrik tetap terjangkau selama masa transisi.