Setapak Langkah – 29 April 2026 | Peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 integrasi Kaharingan–Hindu digelar pada Rabu, 29 April, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Acara tersebut menandai upaya bersama dua tradisi keagamaan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan identitas budaya setempat.
Kaharingan, kepercayaan asli suku Dayak, telah diakui secara resmi sejak tahun 2010, sementara Hindu merupakan agama mayoritas di Bali namun memiliki jejak sejarah yang signifikan di Kalimantan Tengah sejak masa kolonial. Integrasi keduanya dimulai pada awal 1970-an melalui dialog lintas agama, dan kini telah mencapai generasi keenam.
Serangkaian rangkaian kegiatan diselenggarakan, antara lain:
- Upacara adat Kaharingan yang diiringi nyanyian mantra Hindu.
- Penampilan seni tradisional Dayak, seperti tarian ‘Gantar’ dan musik gamelan Bali.
- Diskusi panel yang melibatkan tokoh agama, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah tentang pentingnya toleransi dan pelestarian budaya.
- Pameran foto dokumentasi sejarah integrasi sejak pertama kali dimulai.
Pejabat Dinas Kebudayaan Kalimantan Tengah, Bapak Hendra Wibowo, menekankan bahwa integrasi ini bukan sekadar simbol, melainkan fondasi bagi generasi muda untuk memahami keberagaman sebagai aset budaya. Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah daerah termasuk alokasi dana bagi kegiatan pelestarian bahasa Dayak serta peningkatan fasilitas tempat ibadah bersama.
Para peserta mengaku merasa bangga karena acara ini memberikan ruang bagi ekspresi keagamaan yang harmonis. Seorang pemuda Dayak, Rudi Setiawan, menyatakan, “Kita dapat merayakan kepercayaan nenek moyang sekaligus menghormati nilai-nilai Hindu, sehingga identitas kami menjadi lebih kuat dan inklusif.”
Selain menumbuhkan rasa persatuan, integrasi Kaharingan-Hindu juga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisata religi di Palangka Raya. Pemerintah setempat berencana mengembangkan jalur wisata yang menghubungkan situs-situs suci Kaharingan dengan candi-candi Hindu kecil yang ada di wilayah tersebut.
Dengan momentum perayaan ke-46 ini, harapannya integrasi dua kepercayaan akan terus menjadi contoh konkrit toleransi beragama di Indonesia, sekaligus memperkaya khazanah budaya lokal yang unik.