Setapak Langkah – 29 April 2026 | JAKARTA – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Selatan meningkatkan upaya pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada fase tanam padi. Langkah ini diambil guna memastikan produksi padi tetap stabil dan mengurangi potensi kerugian petani akibat serangan hama.
Tim Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang sebelumnya berfungsi sebagai tim observasi kini diaktifkan kembali dengan mandat yang lebih luas. Tim ini bertugas melakukan pemantauan intensif, identifikasi jenis hama, serta memberikan rekomendasi tindakan cepat kepada petani.
Beberapa strategi kunci yang diterapkan antara lain:
- Pelatihan intensif bagi petani mengenai identifikasi hama dan penggunaan metode pengendalian terpadu (IPM).
- Penyuluhan tentang pemanfaatan agen hayati seperti predator alami dan mikroba antagonis.
- Distribusi bibit padi tahan hama yang telah diseleksi oleh Balai Penelitian Tanaman Padi.
- Peningkatan koordinasi dengan pihak kepolisian pertanian untuk penindakan penggunaan pestisida berbahaya.
DPKP juga menyusun jadwal rotasi tanaman dan penanaman varietas unggul untuk meminimalkan tekanan hama. Berikut adalah contoh kombinasi hama utama dan metode pengendalian yang direkomendasikan:
| Hama | Metode Pengendalian |
|---|---|
| Ulat Penggerek Batang (Scirpophaga incertulas) | Penggunaan varietas tahan, pelepasan parasit Trichogramma, dan aplikasi insektisida selektif pada fase kritis. |
| Wereng Hijau (Nephotettix spp.) | Pembasmian gulma alternatif, penanaman varietas resisten, serta penggunaan insektisida berbasis bio. |
| Ulat Grayak (Cyrtotrachelus buqueti) | Pemangkasan gulma, penanaman tanaman penutup tanah, dan aplikasi neem oil sebagai pestisida alami. |
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan produksi padi di Kalimantan Selatan dapat tetap tinggi meski menghadapi tekanan hama. DPKP menekankan pentingnya partisipasi aktif petani, penyuluh, dan lembaga penelitian untuk mewujudkan ketahanan pangan jangka panjang.