Setapak Langkah – 25 April 2026 | Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa pemerintah akan mengimpor total 150 juta barel minyak mentah asal Rusia secara bertahap hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi pasokan energi nasional setelah terjadinya penurunan aliran minyak dari sumber tradisional.
Rencana impor dibagi menjadi beberapa fase, dengan target volume yang meningkat setiap tahunnya. Berikut rincian perkiraan volume impor per tahun:
| Tahun | Volume (juta barel) |
|---|---|
| 2023 | 10 |
| 2024 | 30 |
| 2025 | 55 |
| 2026 | 55 |
Pengiriman minyak Rusia akan dilakukan melalui jalur laut, dengan pelabuhan utama di Pulau Jawa dan Sumatra. Pemerintah menegaskan bahwa semua transaksi akan mematuhi regulasi internasional dan tidak melanggar sanksi yang diberlakukan oleh negara‑negara sekutu.
Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan energi domestik serta menekan harga BBM di dalam negeri. Analisis ekonom menilai bahwa tambahan pasokan sebesar 150 juta barel dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak dari Timur Tengah sebesar 20 persen.
Namun, kebijakan tersebut juga menimbulkan pertanyaan terkait geopolitik. Kritikus mengingatkan bahwa ketergantungan pada minyak Rusia dapat mempengaruhi posisi tawar Indonesia dalam hubungan internasional, terutama mengingat ketegangan antara Rusia, Israel, dan Iran yang terus memanas.
ESDM menegaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada pertimbangan keamanan energi dan tidak bersifat politis. Menteri ESDM, nama Menteri, menyatakan bahwa pemerintah akan terus memantau situasi global dan siap menyesuaikan kebijakan bila diperlukan.
Selain itu, pemerintah berencana meningkatkan investasi dalam energi terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Target energi terbarukan diharapkan mencapai 23 persen pada tahun 2025.