Setapak Langkah – 24 April 2026 | Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa kebijakan biofuel, seperti biodiesel dan bioetanol, dapat berperan sebagai jembatan dalam proses transisi energi Indonesia menuju kendaraan listrik. Menurut analisis terbaru, pemanfaatan biofuel tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, tetapi juga memberikan ruang waktu bagi pengembangan infrastruktur kendaraan listrik.
Alasan Biofuel Dijadikan Jembatan
- Menurunkan impor minyak mentah dan bahan bakar fosil.
- Memberikan alternatif energi terbarukan yang sudah memiliki rantai pasok domestik.
- Mendukung industri pertanian melalui pemanfaatan limbah tanaman.
- Memberikan waktu bagi pemerintah dan swasta menyiapkan jaringan pengisian listrik secara luas.
Perbandingan Dampak Lingkungan
| Jenis Bahan Bakar | Emisi CO2 (g/km) | Ketersediaan di Indonesia |
|---|---|---|
| Bensin | ≈250 | Tinggi, tergantung impor |
| Diesel | ≈220 | Tinggi, tergantung impor |
| Biodiesel (B30) | ≈180 | Sedang, produksi lokal meningkat |
| Bioetanol (E10) | ≈190 | Sedang, potensi dari tebu dan kelapa sawit |
| Listrik (EV) | ≈0–50 | Terbatas, tergantung pembangkit listrik bersih |
Tantangan dan Rencana Kebijakan
Walaupun biofuel menawarkan banyak keuntungan, INDEF mencatat beberapa tantangan, antara lain: kebutuhan investasi awal untuk fasilitas produksi skala besar, standar kualitas bahan bakar yang konsisten, serta koordinasi antar lembaga dalam penetapan kuota biofuel. Pemerintah diproyeksikan akan memperkuat regulasi kuota biofuel hingga 2028 dan mendorong penelitian sel bahan bakar berbasis bio untuk aplikasi kendaraan listrik hibrida.
Dengan pendekatan bertahap, biofuel diharapkan menjadi “jembatan” yang menghubungkan kebutuhan energi saat ini dengan visi mobil listrik masa depan. Kebijakan yang terintegrasi antara sektor energi, transportasi, dan pertanian akan menjadi kunci keberhasilan transisi ini.