Setapak Langkah – 19 April 2026 | Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028 untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Target tersebut mencakup produksi gula domestik yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar dalam negeri.
Namun, realisasi target menghadapi dua kendala utama. Pertama, produktivitas tebu di lapangan masih berada di level yang jauh di bawah standar internasional. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata‑rata hasil tebu per hektar hanya sekitar 60‑70 ton, sementara negara produsen utama seperti Brasil atau Thailand mencatat lebih dari 120 ton per hektar.
| Negara | Hasil Tebu (ton/ha) |
|---|---|
| Indonesia | 65 |
| Brasil | 130 |
| Thailand | 125 |
Kedua, sebagian besar pabrik gula beroperasi dengan peralatan yang berusia lebih dari 30 tahun. Mesin‑mesin usang menurunkan efisiensi proses pengolahan, meningkatkan biaya produksi, dan menurunkan kualitas gula yang dihasilkan.
- Usia rata‑rata pabrik: 28‑35 tahun
- Tingkat downtime mesin meningkat 15 % dibandingkan pabrik modern
- Kebutuhan investasi renovasi diperkirakan mencapai Rp 30 triliun
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah bersama kementerian terkait telah merumuskan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Program peningkatan produktivitas tebu melalui adopsi varietas unggul dan penerapan teknik budidaya presisi.
- Insentif fiskal dan pembiayaan lunak bagi produsen yang melakukan modernisasi pabrik.
- Pembangunan pabrik gula baru dengan teknologi terkini di wilayah potensial.
- Peningkatan pelatihan tenaga kerja di sektor perkebunan dan industri gula.
Jika langkah‑langkah ini dilaksanakan secara konsisten, diharapkan Indonesia dapat mencapai swasembada gula pada akhir dekade ini, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan menstabilkan harga gula dalam negeri.