Setapak Langkah – 12 April 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di acara Halalbihalal Jawa Timur, tokoh politik dan tokoh agama Said Abdullah menegaskan kembali pentingnya sinergi antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI‑Perjuangan) di provinsi tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar aliansi politik semata, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai Islam wasathiyah yang moderat, adil, seimbang, dan toleran.
Said Abdullah menyoroti bahwa kedua organisasi memiliki titik temu ideologis yang kuat, terutama dalam upaya memperkuat keadilan sosial, melindungi hak minoritas, serta menolak segala bentuk ekstremisme. “NU dan PDI‑Perjuangan berkomitmen menegakkan nilai-nilai keagamaan yang inklusif, sekaligus mendorong kebijakan publik yang berpihak pada rakyat,” ujarnya.
Acara Halalbihalal yang biasanya menjadi ajang kebersamaan umat Islam di akhir Ramadan, dijadikan oleh Said Abdullah sebagai wadah untuk menolak politik kepalsuan. Ia menegaskan bahwa semangat silaturahmi dan tolong‑menolong dalam halalbihalal harus menjadi tameng terhadap politik oportunistik yang hanya mengincar suara tanpa memperhatikan nilai moral.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Said Abdullah:
- Poros Ideologis: Kedua pihak sepakat pada nilai Islam wasathiyah yang menyeimbangkan antara kebebasan beragama dan keadilan sosial.
- Penolakan Ekstremisme: NU dan PDI‑Perjuangan menolak segala bentuk radikalisme yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
- Halalbihalal sebagai Penangkal: Tradisi halalbihalal dijadikan simbol persatuan, mengingatkan bahwa politik harus berlandaskan kepedulian dan kebersamaan.
- Fokus pada Pembangunan: Sinergi diharapkan menghasilkan kebijakan yang mendukung ekonomi daerah, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Said Abdullah menutup pidatonya dengan harapan agar masyarakat Jawa Timur dapat melihat bahwa kolaborasi NU‑PDI‑Perjuangan bukan sekadar strategi kampanye, melainkan komitmen jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai dan berkeadilan.