Setapak Langkah – 12 April 2026 | Bank Dunia baru‑baru ini menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 4,7 persen, turun dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 5,5‑6 persen. Penurunan ini mencerminkan peningkatan tekanan eksternal serta lonjakan harga energi global yang dapat menambah beban inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
Beberapa faktor utama yang memicu revisi tersebut antara lain:
- Ketegangan geopolitik di kawasan Asia‑Pasifik yang memperlambat arus perdagangan.
- Kenaikan harga minyak dan gas yang menambah beban biaya produksi dan transportasi.
- Fluktuasi nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor bahan baku.
- Risiko iklim yang dapat mempengaruhi sektor pertanian dan energi terbarukan.
Bank Dunia menegaskan bahwa meskipun pertumbuhan akan melambat, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat berkat pasar domestik yang luas, cadangan devisa yang memadai, dan kebijakan fiskal yang disiplin. Pemerintah diharapkan memperkuat langkah-langkah penstabilan harga energi, meningkatkan efisiensi energi, dan memperluas investasi pada infrastruktur berkelanjutan.
Berikut perbandingan singkat antara proyeksi lama dan baru:
| Tahun | Proyeksi Lama (%) | Proyeksi Baru (%) |
|---|---|---|
| 2026 | 5,5‑6,0 | 4,7 |
Jika kebijakan makroekonomi tetap konsisten dan risiko eksternal dapat dikelola, Bank Dunia memperkirakan Indonesia masih akan berada di atas rata‑rata pertumbuhan kawasan pada akhir dekade ini.