Setapak Langkah – 10 April 2026 | Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengumumkan bahwa Indonesia telah berhasil mengamankan komitmen pasokan natrium fasfat (NAFTA) dari tiga wilayah utama, yaitu India, sejumlah negara di Afrika, dan Amerika Serikat. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan industri kimia domestik yang terus meningkat serta upaya diversifikasi sumber impor.
NAFTA merupakan bahan baku penting bagi sektor petrokimia, pupuk, dan produk kimia lainnya. Ketergantungan pada satu atau dua negara pemasok sebelumnya menimbulkan risiko fluktuasi harga dan gangguan rantai pasok. Dengan menambah pemasok dari tiga kawasan, pemerintah berharap dapat menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
- India: menawarkan volume tahunan sekitar 150.000 ton dengan harga kompetitif.
- Negara‑negara Afrika (misalnya Nigeria, Ghana, dan Aljazair): masing‑masing berkomitmen menyediakan total sekitar 120.000 ton.
- Amerika Serikat: menyiapkan pasokan sebesar 130.000 ton melalui kontrak jangka menengah.
Berikut rangkuman komitmen pasokan yang telah disepakati:
| Kawasan | Negara | Volume (ton) | Jangka Waktu |
|---|---|---|---|
| Asia | India | 150.000 | 2024‑2026 |
| Afrika | Nigeria, Ghana, Aljazair | 120.000 | 2024‑2027 |
| Amerika Utara | Amerika Serikat | 130.000 | 2024‑2026 |
Pengamanan pasokan ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi bagi industri lokal, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, serta mengurangi ketergantungan pada satu sumber impor. Menteri Maman menekankan pentingnya koordinasi antara kementerian terkait, pelaku usaha UMKM, serta perusahaan besar untuk memanfaatkan peluang ini secara optimal.
Selain itu, pemerintah berencana memperkuat fasilitas pelabuhan dan logistik guna mendukung aliran barang yang lebih cepat dan efisien. Langkah-langkah tersebut sejalan dengan agenda penguatan ketahanan energi dan bahan baku strategis negara.