Setapak Langkah – 09 April 2026 | Menhub Raja Juli menyampaikan apresiasi terhadap upaya Rwanda dalam melestarikan populasi gorila gunung yang kini menjadi salah satu ikon konservasi alam Afrika Tengah. Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Kigali, Menteri menekankan bahwa strategi konservasi yang terintegrasi dengan sektor pariwisata telah menghasilkan peningkatan devisa yang signifikan bagi negara tersebut.
Rwanda sejak 2001 membuka taman nasional Volcanoes untuk ekowisata, memungkinkan wisatawan dari seluruh dunia menyaksikan gorila di habitat alaminya. Pendapatan dari izin trekking, akomodasi, serta layanan pendukung diperkirakan menyumbang lebih dari 30 persen pendapatan devisa negara pada tahun 2023.
Berikut data utama yang disampaikan dalam rapat:
| Tahun | Jumlah Wisatawan | Pendapatan Devisa (USD) |
|---|---|---|
| 2020 | 120.000 | 150 juta |
| 2021 | 180.000 | 240 juta |
| 2022 | 250.000 | 340 juta |
| 2023 | 320.000 | 460 juta |
Selain manfaat ekonomi, program konservasi Rwanda juga berhasil menurunkan tingkat penurunan populasi gorila dari 3,5 persen per tahun menjadi hampir stagnan, berkat upaya patroli anti-penyamaran, pelibatan komunitas lokal, dan pendanaan berbasis ekowisata.
Raja Juli menambahkan, “Keberhasilan Rwanda menjadi contoh bahwa perlindungan alam tidak harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Kita perlu mengadopsi model serupa di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah dengan potensi biodiversitas tinggi.”
Ia juga mengusulkan pembentukan forum kerja sama ASEAN‑Africa yang mencakup pertukaran teknologi pemantauan satwa liar, pelatihan manajemen taman nasional, serta skema pembiayaan bersama untuk proyek konservasi yang dapat meningkatkan devisa negara anggota.