Rumah Cut Nyak Dhien, Destinasi Wisata Sejarah Yang Wajib Kita Kunjungi Di Aceh

Rumah Cut Nyak Dhien

Selain RA. Kartini, Cut Nyak Dhien juga merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia wanita yang namanya begitu dikenal. Cut Nyak Dhien ini berkontribusi besar terhadap perlawanan pada masa perang Aceh. Peran Cut Nyak Dien dalam perang Aceh cukup besar bersama rakyat tidak ingin diperbudak oleh kolonial dan memperjuangkan hak sebagai warga Indonesia.

Menariknya, rumah Cut Nyak Dhien pun kini resmi dijadikan sebagai museum guna mengenang jasa-jasanya. Karena Cut Nyak Dhien ini tidak pernah menyerah sekalipun, masyarakat menyebutnya sebagai Srikandi Aceh. Jasanya yang begitu besar menciptakan rasa sayang yang begitu besar pada sosok yang satu ini.

Sejarah Singkat Rumah Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien memiliki kisah hidup yang menarik. Ia lahir pada tahun 1848 dari salah satu keturunan bangsawan yakni Teuku Nanta Seutia dan Uleebalang Lampageu. Cut Nyak Dhien ini menikah pada usianya yang ke 12 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga.

Sayangnya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal dalam perjuangannya melawan Belanda. Sejak saat itu, Cut Nyak Dhien memiliki keinginan untuk menumpas ketidakadilan pada kehidupannya serta orang-orang di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Teuku Umar yang merupakan salah satu tokoh pejuang ingin melamar Cut Nyak Dhien dengan satu syarat bahwa Cut Nyak Dien tidak diperbolehkan mengikuti peperangan. Cut Nyak Dien pun menolak tawaran tersebut hingga pada akhirnya Teuku Umar memberinya izin.

2021 12 23
Foto via Google maps/Rangga Yudhika

Ketika bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien sempat diwarnai pembelotan dengan pihak Belanda. Masyarakat menganggap bahwa Teuku Umar telah berkhianat padahal hal tersebut hanyalah strategi agar Teuku Umar bisa mengakses persenjataan Belanda.

Belanda yang begitu percaya pada Teuku Umar kemudian menghadiahkan sebuah rumah kepada Teuku Umar. Rumah tersebut yang kini bisa kita lihat sebagai tempat tinggal Cut Nyak Dhien.

Akan tetapi, rumah saat ini merupakan replika dari rumah asli yang dihadiahkan Belanda. Hal tersebut karena Teuku Umar telah diketahui hanya memanfaatkan Belanda dan kemudian dibakar habis pada tahun 1896.

Kemudian rumah tersebut dibangun kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu setelah itu diresmikan pada tahun 1987 oleh Fuad Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat ini, rumah Cut Nyak Dhien tersebut bisa kita kunjungi secara umum sebagai wisata Aceh.

Review Rumah Cut Nyak Dhien

Biasanya Rumah Cut Nyak Dhien ini selalu saja dipadati oleh para pelajar guna mengenal lebih dalam sosok Cut Nyak Dien. Namun banyak juga wisatawan yang sengaja menyempatkan waktunya untuk datang ke sana.

Setibanya di lokasi Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan akan menemukan sumur tinggi tepat di depan pintu masuk rumah tersebut. Tujuan dibuatnya sumur dengan ketinggian hingga 2 meter tersebut berguna agar Belanda tidak bisa meracuni air yang ada di dalam sumur.

Seperti halnya rumah pada zaman dulu, rumah Cut Nyak Dhien juga memiliki konsep rumah tradisional Aceh dengan bentuk rumah panggung. Rumah ini memiliki pintu utama yang kecil sehingga wisatawan yang masuk ke sana perlu membungkuk sedikit.

DSC 7924
Foto via Googlemaps/Fauzi ST

Untuk dindingnya didominasi dengan kayu. Lalu atap rumah tersebut terlihat cukup mencolok yakni dihiasi dengan pelepah daun kelapa. Di ruang tamu, wisatawan akan melihat deretan kursi kayu yang dulunya digunakan oleh para tokoh untuk merundingkan strategi perang.

Di ruang lainnya, kita juga bisa menemukan koleksi senjata yang digunakan Cut Nyak Dien untuk berperang yaitu rencong dan juga parang. Koleksi lainnya yang bisa kita temukan di sana berupa album foto, baju adat Aceh, dan masih banyak lagi.

Selain mengupas tuntas seputar Cut Nyak Dien, wisatawan juga bisa menggali informasi seputar Perang Aceh yang terjadi pada tahun 1896 hingga 1901.

Fasilitas lainnya yang bisa kita temukan di Rumah Cut Nyak Dhien ini berupa pemandu, toilet, musala, parkiran luas, warung, dan masih banyak lagi.

Harga Tiket Masuk Rumah Cut Nyak Dhien

Wisatawan yang berencana melakukan liburan di Rumah Cut Nyak Dien ini tidak akan dikenakan biaya tiket masuk alias gratis. Wisatawan hanya perlu ikut memberikan retribusi seikhlasnya guna melakukan perawatan pada museum.

Lokasi dan Jam Buka Rumah Cut Nyak Dhien

Rumah Cut Nyak Dien ini berda di Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar, Aceh 23232. Wisatawan yang baru saja tiba di Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda bisa menempuhnya dengan waktu sekitar 33 menit perjalanan. Google Maps.

Kita bisa melalui Jalan Lintas Barat Sumatera menuju ke Jalan Cut Nyak Dien. Dari sana kita hanya perlu mengikuti petunjuk jalan hingga sampai di Rumah Cut Nyak Dhien yang berada di pinggir jalan besar.

Rumah Cut Nyak Dien ini beroperasi setiap hari di mana durasi waktu operasionalnya mulai dari pukul 09:00 WIB hingga pukul 17:00 WIB.

Akomodasi

Ada beberapa tempat penginapan yang bisa kita kunjungi di dekat Rumah Cut Nyak Dien. Kita bisa melakukan penginapan di The Pade Hotel yang berlokasi di Jalan Soekarno – Hatta No.1, Daruy Kameu, Darul Imarah, Tingkeum, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23231.

Jaraknya hanya sekitar 12 menit perjalanan dari Rumah Cut Nyak Dhien. Untuk tarif penginapannya dibanderol mulai dari Rp 329.000 per malam.

Avatar for Marlina Septiana
Marlina Septiana Ibu Rumah Tangga yang memiliki hobi membaca serta menulis cerpen dan ulasan buku.
Avatar for Marlina Septiana
Marlina Septiana Ibu Rumah Tangga yang memiliki hobi membaca serta menulis cerpen dan ulasan buku.
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments