Setapak Langkah – 31 Juli 2026 | Jakarta – Pertamina menegaskan bahwa penguatan kapabilitas dan budaya keberlanjutan menjadi pilar utama dalam upaya transformasi bisnis di tengah dinamika industri energi yang semakin menuntut praktik ramah lingkungan.
Dalam rapat internal yang dihadiri jajaran eksekutif, perusahaan menguraikan serangkaian langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi teknis, integrasi nilai-nilai ESG (Environmental, Social, Governance), serta perubahan mindset karyawan di seluruh unit bisnis.
Beberapa inisiatif kunci yang disorot antara lain:
- Pembentukan pusat pelatihan berkelanjutan yang menyediakan modul tentang energi bersih, pengelolaan emisi, dan ekonomi sirkular.
- Penerapan sistem manajemen keberlanjutan berbasis digital untuk memantau jejak karbon secara real‑time.
- Pengembangan program penghargaan internal bagi tim yang berhasil mengimplementasikan proyek ramah lingkungan.
- Kolaborasi dengan lembaga akademik dan startup teknologi untuk riset energi terbarukan serta inovasi bahan bakar alternatif.
Dengan memperkuat kapabilitas internal, Pertamina berharap dapat mengurangi intensitas karbon pada operasi produksi dan distribusi, sekaligus memperluas portofolio energi terbarukan seperti biofuel, hidrogen, dan tenaga surya.
Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam mencapai net‑zero emissions pada 2060, serta mendukung target diversifikasi energi nasional yang menekankan pada peningkatan pangsa energi terbarukan menjadi 23 % pada tahun 2025.
Direktur Utama Pertamina menegaskan, “Budaya keberlanjutan bukan sekadar program, melainkan landasan bagi setiap keputusan bisnis. Dengan kapabilitas yang kuat, kami dapat berkontribusi pada transisi energi yang berkelanjutan sekaligus menjaga daya saing perusahaan di pasar global.”