Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, menilai bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat berperan sebagai instrumen untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan inflasi global.
Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:
- Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya transportasi, sehingga harga barang impor cenderung naik dan menurunkan konsumsi impor.
- Penyesuaian tarif BBM dapat memperkuat posisi fiskal pemerintah, memberi ruang bagi intervensi pasar valuta asing.
- Jika tidak diimbangi dengan kebijakan moneter yang tepat, kenaikan BBM berisiko memicu inflasi yang berlebihan.
Berikut adalah contoh dampak kenaikan harga BBM terhadap kurs rupiah dalam tiga bulan terakhir:
| Bulan | Harga BBM (Rupiah/liter) | Kurs USD/IDR |
|---|---|---|
| Januari 2024 | 10.500 | 15.100 |
| Februari 2024 | 10.700 | 15.050 |
| Maret 2024 | 10.900 | 14.980 |
Data di atas menunjukkan korelasi negatif antara harga BBM dan nilai tukar dolar, meski faktor eksternal lain juga memengaruhi. Bonti menekankan pentingnya koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan regulator energi untuk memastikan bahwa kebijakan harga BBM tidak menimbulkan efek samping yang merugikan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM harus diiringi dengan program subsidi yang tepat sasaran, terutama bagi kelompok pendapatan rendah, agar beban inflasi tidak terlalu berat.