Setapak Langkah – 29 Juni 2026 | Kelompok mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menciptakan formulasi nanopestisida yang dapat bertahan terhadap paparan sinar ultraviolet (UV) serta tidak mudah terlarut oleh air hujan. Inovasi ini menjawab dua kendala utama pada pestisida konvensional: degradasi kimia akibat sinar matahari dan pencucian oleh curah hujan yang menurunkan efektivitasnya di lapangan.
Tim riset, yang dipimpin oleh mahasiswa tingkat akhir jurusan Agronomi, menggabungkan teknologi nano dengan bahan aktif alami. Partikel nano yang berukuran kurang dari 100 nanometer memungkinkan penyerapan yang lebih baik pada permukaan tanaman dan perlindungan yang lebih lama terhadap faktor lingkungan.
Keunggulan Nanopestisida ITS
- Tahan UV: Lapisan pelindung nano menghambat reaksi kimia yang biasanya dipicu oleh sinar UV, sehingga bahan aktif tetap aktif selama lebih dari 72 jam setelah penyemprotan.
- Resistensi terhadap Hujan: Formulasi mengandung agen pengikat yang meningkatkan kekentalan, sehingga partikel tidak mudah tercuci oleh hujan ringan hingga sedang.
- Ramah Lingkungan: Menggunakan bahan aktif organik yang terurai secara hayati, mengurangi risiko residu kimia pada tanah dan air.
- Efisiensi Dosis: Karena penetrasi yang lebih dalam, dosis yang diperlukan lebih rendah dibandingkan pestisida konvensional, mengurangi biaya bagi petani.
Proses pengembangan meliputi tiga fase utama:
| Fase | Deskripsi |
|---|---|
| Formulasi | Pencampuran bahan aktif organik dengan nanopartikel silika dan polimer pengikat. |
| Uji Laboratorium | Pengujian ketahanan terhadap sinar UV (UV‑B 280 nm) dan simulasi hujan menggunakan alat sprinkler. |
| Uji Lapangan | Penerapan pada lahan padi di Kabupaten Kediri, dengan pemantauan efek pengendalian hama dan residu tanah selama 30 hari. |
Hasil uji laboratorium menunjukkan penurunan degradasi bahan aktif sebesar 85 % setelah 48 jam paparan UV, sementara pada uji hujan simulasi partikel tetap terikat pada daun hingga 90 % setelah 2 jam curah hujan 10 mm/jam. Pada uji lapangan, tingkat serangan hama berkurang hingga 78 % dibandingkan plot kontrol yang menggunakan pestisida tradisional.
Tim berharap inovasi ini dapat dipatenkan dan diproduksi secara massal dalam tiga tahun ke depan, serta diintegrasikan ke program pertanian berkelanjutan yang digalakkan oleh Kementerian Pertanian. Dengan meningkatkan efektivitas pestisida, diharapkan produktivitas pertanian Indonesia dapat naik tanpa menambah beban kimiawi pada ekosistem.