Setapak Langkah – 09 Juni 2026 | Bank Indonesia dan Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) mengonfirmasi bahwa nilai tukar Rupiah dan Peso Filipina berada pada level terendahnya dibandingkan dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi tekanan inflasi domestik, kebijakan moneter yang ketat di Amerika, serta aliran modal global yang menguatkan dolar.
Kondisi lemah ini menimbulkan tantangan bagi sektor ekspor‑import kedua negara, karena biaya impor naik dan daya saing produk lokal menurun. Untuk mengurangi ketergantungan pada dolar, kedua pemerintah tengah membahas kemungkinan penerapan skema barter dalam perdagangan bilateral.
| Mata Uang | Kurs terhadap USD (per 1 USD) |
|---|---|
| Rupiah (IDR) | ≈15.200 |
| Peso Filipina (PHP) | ≈56.8 |
Skema barter yang diusulkan meliputi pertukaran barang dan jasa secara langsung, tanpa konversi ke dolar. Beberapa komoditas yang dipertimbangkan meliputi:
- Produk pertanian: beras, kelapa sawit, gula kelapa
- Produk perikanan: ikan tuna, udang
- Barang industri: mesin pengolahan, bahan baku kimia
Keuntungan utama dari barter adalah mengurangi eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar, menstabilkan pendapatan eksportir, serta memperkuat hubungan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Filipina. Namun, implementasinya memerlukan koordinasi regulasi, standar kualitas, dan infrastruktur logistik yang memadai.
Jika berhasil, model barter ini dapat menjadi contoh bagi negara‑negara Asia lainnya yang menghadapi tekanan nilai tukar serupa, sekaligus memperluas jaringan perdagangan regional yang lebih mandiri.