Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Pasukan Quds Angkatan Bersenjata Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas bahwa setiap serangan Amerika Serikat terhadap kapal tanker atau kapal komersial Iran akan direspons dengan serangan balasan berskala besar terhadap instalasi militer AS di kawasan Timur Tengah serta kapal-kapal yang dianggap musuh.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memuncak di perairan Teluk Persia setelah beberapa insiden penangkapan dan penembakan yang melibatkan kapal-kapal Iran dan angkatan laut Amerika Serikat. IRGC menegaskan kesiapan operasionalnya untuk melancarkan serangan balasan yang melibatkan berbagai elemen militer.
Dalam rangka menegaskan maksudnya, IRGC menyebutkan beberapa target potensial yang dapat menjadi sasaran serangan balik, antara lain:
- Pangkalan udara dan laut Amerika di wilayah Teluk Persia dan sekitarnya.
- Sistem pertahanan udara dan radar yang mendukung operasi militer AS.
- Kapal perang dan kapal pendukung logistik militer yang berada di perairan internasional.
Pihak militer Iran menambahkan bahwa serangan balasan akan dilakukan secara terkoordinasi dan menggunakan kemampuan anti-kapal, rudal darat-ke-udara, serta sistem pertahanan siber untuk mengganggu jaringan komunikasi musuh.
Sementara itu, pejabat Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan IRGC tersebut, namun sumber diplomatik mengindikasikan bahwa Washington memantau situasi dengan cermat dan menegaskan bahwa kebijakan pertahanan kawasan tetap berlandaskan pada kepentingan keamanan global.
Para pengamat menilai bahwa eskalasi retorika ini dapat memperburuk ketegangan yang sudah rapuh, khususnya bagi jalur pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz. Jika terjadi konfrontasi terbuka, risiko gangguan pasokan energi dunia dapat meningkat, menimbulkan volatilitas harga minyak dan memicu keresahan di pasar internasional.
Keamanan regional kini berada pada titik kritis, dengan kedua belah pihak menyiapkan langkah-langkah militer yang dapat mengubah dinamika konflik menjadi konfrontasi langsung. Masyarakat internasional menyerukan dialog dan penurunan intensitas aksi militer guna mencegah terjadinya konflik berskala lebih luas.