Setapak Langkah – 06 Agustus 2026 | Kepercayaan terhadap mitos, ramalan, atau takhayul masih marak di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak orang mengubah perilaku sehari‑hari karena keyakinan tersebut, meskipun tidak ada dasar ilmiah atau syar’i yang mendukung. Islam memberikan pedoman jelas mengenai hal ini, dengan menegaskan batas antara iman yang sah dan kepercayaan yang menyalahi ajaran.
Pengertian Mitos, Ramalan, dan Takhrij
Mitos dapat diartikan sebagai cerita yang tidak memiliki dasar kuat, sering kali beredar turun‑temurun. Ramalan atau takhrij merujuk pada prediksi masa depan yang dihasilkan melalui cara‑cara mistis, seperti mengamati bintang, membaca tanda‑tanda alam, atau menggunakan jimat. Kedua hal tersebut biasanya tidak didasarkan pada wahyu atau sumber Islam yang sah.
Dalil Qur’an yang Menolak Takdir yang Ditetapkan oleh Manusia
- Surah Al‑Baqara 2:219: “Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat; katakanlah, ‘Hari kiamat itu tidak dapat diduga oleh seorangpun’.” Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang masa depan hanya milik Allah.
- Surah Al‑An’am 6:59: “Dan di sisi Kami ada kunci rahasia segala sesuatu; tidak ada yang mengetahui rahasia itu kecuali Kami.” Ini menolak upaya manusia menebak atau meramalkan kejadian yang belum terjadi.
- Surah Al‑Mujadilah 58:6: “Sesungguhnya Allah mengetahui rahasia hati dan pikiran mereka.” Menunjukkan bahwa hanya Allah yang mengetahui hal‑hal ghaib, bukan manusia.
Dalil Hadis Tentang Larangan Ramalan
- Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menanyakan kepada para peramal tentang hari kiamat, maka ia termasuk orang yang menolak iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Dalam sebuah hadis lain, Nabi menegaskan, “Janganlah kamu meneliti masa depan, karena masa depan itu milik Allah saja.” (HR. Abu Dawud).
- Hadis riwayat Ibn Majah menyatakan, “Orang yang mempercayai ramalan dan sihir tidak akan masuk surga kecuali dia bertaubat.”
Konsekuensi Membenarkan Mitos dan Ramalan
Mempercayai ramalan dapat menjerumuskan seseorang pada takwa yang lemah, menurunkan rasa tawakal, dan bahkan menimbulkan perilaku tak bertanggung jawab. Dari sudut pandang syariah, hal ini dapat dianggap sebagai bentuk syirik kecil (shirk al‑aqli) karena menempatkan pengetahuan manusia setara dengan Allah.
Bagaimana Seharusnya Muslim Menanggapi
1. Tingkatkan ilmu agama melalui membaca Qur’an, hadis, dan tafsir yang terpercaya.
2. Cari penjelasan rasional atas fenomena yang sering dikaitkan dengan takhayul, misalnya ilmu pengetahuan modern.
3. Tingkatkan ibadah dan doa, karena tawakal kepada Allah adalah kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian.
4. Jika ada rasa cemas tentang masa depan, konsultasikan kepada ulama atau tokoh agama yang kompeten, bukan kepada peramal.
Dengan memahami dalil‑dalil Qur’an dan hadis di atas, umat Islam dapat lebih bijak menolak segala bentuk mitos dan ramalan yang tidak berlandaskan pada ajaran Islam, serta memperkuat keimanan melalui kepercayaan kepada Allah sebagai satu‑satunya yang mengetahui segala sesuatu.