Setapak Langkah – 03 Juli 2026 | Potensi terjadinya fenomena El Nino pada tahun 2026 diperkirakan akan menurunkan curah hujan secara signifikan di wilayah Indonesia, khususnya pada masa tanam padi utama. Dampak kekeringan yang berkelanjutan dapat menurunkan produksi pangan dan mengancam target kemandirian pangan nasional.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Kementerian Pertanian bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mempercepat program pompanisasi atau penyebaran benih unggul ke petani. Program ini difokuskan pada varietas padi tahan kering, jagung, dan kedelai yang memiliki daya tahan terhadap stres air.
Langkah-langkah utama percepatan pompanisasi
- Pengadaan benih unggul secara massal melalui kontrak jangka panjang dengan institusi riset.
- Distribusi benih ke tingkat kecamatan dan desa menggunakan armada khusus yang dilengkapi pendingin.
- Penyuluhan intensif kepada petani tentang teknik penanaman hemat air dan penggunaan mulsa organik.
- Pemantauan real‑time lewat aplikasi pertanian untuk mengukur tingkat adopsi benih.
Program ini ditargetkan mencakup lebih dari 2,5 juta hektar lahan pada musim tanam berikutnya. Berikut rincian target distribusi benih per komoditas:
| Komoditas | Luas Lahan (ha) | Varietas Tahan Kering |
|---|---|---|
| Padi | 1.800.000 | IR64‑DR |
| Jagung | 500.000 | SC‑MIR‑001 |
| Kedelai | 200.000 | DK‑Dura‑02 |
Selain penyediaan benir, pemerintah juga mengalokasikan dana tambahan sebesar Rp 1,2 triliun untuk subsidi pupuk dan pelatihan teknis. Diharapkan dengan kombinasi benih tahan kering dan manajemen air yang tepat, produksi pangan nasional tidak akan tergerus secara signifikan.
Jika upaya ini berhasil, Indonesia dapat tetap berada pada jalur pencapaian swasembada pangan sebesar 95 % pada tahun 2026, sekaligus memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.