Setapak Langkah – 07 Agustus 2026 | Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) belum menunjukkan tanda melambat, dengan ratusan pekerja di kota Cimahi, Jawa Barat, kehilangan mata pencaharian mereka. Pada pekan lalu, sebanyak 178 buruh dari PT Namnam Fashion Industries resmi diberhentikan.
Menperin Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan bahwa keputusan PHK ini dipicu oleh kombinasi faktor internal perusahaan serta kondisi makroekonomi yang menurunkan permintaan produk fashion lokal. Menurutnya, perusahaan menghadapi penurunan penjualan yang signifikan akibat persaingan harga internasional, penurunan daya beli konsumen, serta gangguan rantai pasokan yang belum pulih sepenuhnya setelah pandemi.
Beberapa penyebab utama PHK tersebut meliputi:
- Kelebihan kapasitas produksi yang tidak sebanding dengan permintaan pasar.
- Kenaikan biaya bahan baku dan energi yang mengurangi margin keuntungan.
- Ketidakstabilan nilai tukar rupiah yang memperberat impor bahan baku.
- Restrukturisasi organisasi untuk menyesuaikan model bisnis digital.
Kasus ini mencerminkan tren nasional di mana ribuan pekerja sektor manufaktur dan perdagangan mengalami pemutusan kontrak kerja dalam beberapa bulan terakhir. Dampaknya terasa kuat di tingkat lokal, mengingat sebagian besar pekerja PT Namnam berasal dari lingkungan sekitar dan mengandalkan gaji tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain:
- Penyediaan program pelatihan kembali (re‑skilling) untuk menyiapkan tenaga kerja berpindah sektor.
- Pemberian subsidi upah bagi perusahaan yang berkomitmen mempekerjakan kembali mantan karyawan.
- Peningkatan akses kredit bagi usaha kecil menengah (UKM) yang dapat menyerap tenaga kerja terdampak.
Namun, para serikat buruh menilai kebijakan tersebut belum cukup cepat diterapkan, menuntut dialog terbuka antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk menemukan solusi jangka panjang. Mereka menekankan pentingnya perlindungan sosial yang lebih kuat, termasuk jaminan pengangguran dan program penempatan kerja.
Sementara itu, masyarakat Cimahi menanti perkembangan selanjutnya, berharap agar gelombang PHK dapat diperlambat dan tercipta peluang kerja baru yang berkelanjutan.